Tulisan ini akan saya mulai dengan dua cerita. Yang pertama berhubungan dengan gelaran yang biasa dilakukan tiap tahun bagi siswa kelas 3 SMP, SMA dan kelas 6 SD yaitu Ujian Nasional. Di hari terakhir ujian nasional, setelah semua siswa selesai mengerjakan, salah seorang siswa datang kepada saya dan bertanya,” Pak, Ujian KWUnya apa ?” Kebetulan saya mengajar mata pelajaran KWU yang akan dijadikan bahan Ujian Sekolah setelah Ujian Nasional berlangsung. Saya menjawab dengan tegas, “ya sesuai dengan silabus serta kisi-kisi yang saya bagikan, tidak akan keluar dari situ!”. Sang Anak kemudian berkata “ Ah Pak, beri kami sedikit kenang-kenangan nilai yang baik, masak sekolah 3 tahun nilai akhirnya jelek!” Jawab saya “ah, bodoh sekali kamu bila mau saya beri soalnya”, tetapi anak itu tidak kehabisan akal “ Di koran aja ada sekelompok kepala sekolah di Bengkulu yang terlibat pembocoran soal untuk siswanya, hanya saja digagalkan oleh Kepolisian, Nah. Bapak dapat melakukan juga dong, buat kami, khan soalnya yang buat bapak sendiri ! hehehehe...”. Saya hanya melempar senyum kepada siswa tersebut dan menjawab “ Kasihan ya para pendidik itu! “.
........artikel lengkap akan diposting setelah dimuat di majalah KEfAS.....
April 22, 2009
Guru: garis depan pendidikan (atau tentang gap tujuan pendidikan)
Diposkan oleh
Mahatma
di
Wednesday, April 22, 2009
4
komentar
April 17, 2009
HUMANI(ORA) : Sebuah Romantisme Kaum Puritan ? (refleksi seorang guru)
HUMANI(ORA) : Sebuah Romantisme Kaum Puritan ?
(refleksi seorang guru)
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman baru, mengirimkan pesan via Facebook, Gimana kabar kolese Mikael? Butuh pendidikan human skill dan olah rohani. Kehidupan di sana selalu dekat dgn benar - salah, ukuran masuk atau blong dan suasana pendidikan yg ketat. Kawan tadi adalah lulusan Kolese Mikael.
Siapa yang pernah mencicipi pendidikan di Kolese Mikael pasti tak asing lagi dengan kata blong, ukuran masuk, kompen, jam plus, minus dan lembur. Istilah tersebut khas Kolese ini dan tidak dimiliki oleh Kolese lain. Kumpulan istilah itu mau menunjukkan realitas yang sama yaitu suatu kesalahan dan sanksinya. Dan yang lebih khas lagi, istilah tersebut muncul di Bengkel latihan kerja.
Kegiatan di bengkel memang mendapat porsi yang lebih besar di Kolese ini. Praktek kerja di Bengkel, bahkan, di ATMI mencapai 70 persen dari total kegiatan perkuliahan. Dari porsi tersebut, nampak jelas ke mana pendidikan di Kolese ini berpihak. Kemampuan yang ingin dikembangkan adalah kemampuan praktis operasional yaitu mampu mengoperasikan mesin. Pilihan model pendidikan semacam ini mengundang pertanyaan tentang konsep manusia ideal bagi pendidikan terutama di Kolese ini.
(.....tulisan lengkap di majalah ANIMUS, segera terbit)
Diposkan oleh
Mahatma
di
Friday, April 17, 2009
1 komentar
KOPDAR: atau tentang runtuhnya kultur tatap muka
Hari ini, mungkin ada kopdar (kopi darat) BENGAWAN setelah lama tidak ketemu. Hal ini cukup aneh bagiku. melanjutkan refleksi tentang komunitas. Aku tergerak untuk melihat kembali fenomena ini.
Dalam salah satu artikel Kompas Minggu, entah tanggal berapa, ada satu tulisan tentang KULTUR TATAP MUKA. Sang penulis melihat kecenderungan yang mulai nampak yaitu hilangnya kultur tatap muka. Kultur ini telah sebegitu kurangnya sehingga forum forum diskusi, studi club, rapat organisasi, kumpul berbagi ide untuk suatu pergerakan, berkurang. Padahal, dari pertemuan, diskusi semacam itulah, dahulu muncul banyak ide cemerlang bagi perubahan dan pergerakan di Indonesia. Sinyalemen hilangnya kultur tatap muka ini diperkuat dengan munculnya sarana sosialisasi maya semacam facebook, friendster, plurk, myspace,dll. Itu semua menambah deretan sebab lunturnya KULTUR tatap muka. Nah, mengapa di komunitas BENGAWAN, yang nyata-nyata muncul dari dunia maya, kemudian muncul gagasan untuk bertemu langsung.
Ketika di tempat lain, gairah untuk berkomunitas menyebar di ruang-ruang maya, yang privat, terjaga identitasnya, maka di BENGAWAN (dan komunitas sejenis), hasrat untuk bertemu juga muncul. Saat ketemu, fragmen-fragmen sosial yang terbentuk di ruang maya, mulai cair kembali dan menyisakan ruang yang kembali terbuka untuk dimasuki oleh pribadi-pribadi dalam fragmen yang lebih intim. Lewat pertemuan, pembauan, penginderaan, sentuhan, terbukalah fragmen intim pribadi sehingga muncul relasi yang bukan kami-kamu, tetapi aku-kamu, bahkan kita.
Momen kopdar adalah moment perayaan bagi KITA, suatu modus kebersamaan yang mungkin sangat khas di Indonesia. Ruang maya hanyalah sarana untuk suatu pertemuan tatap muka. Keinginan bertemu sang anak manusia dengan speciesnya ternyata masih nampak nyata di sini. Semoga kekhawatiran yang muncul di artikel di atas tertanggapi dengan sedikit tulisan ini.
Diposkan oleh
Mahatma
di
Friday, April 17, 2009
3
komentar
Copyright © 2011 mahatmaberkata-kata
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web