October 19, 2012

Kulkas : Belajar berharap


Pulang dari kuliah, hal pertama yang sering kulakukan adalah pergi ke ruang makan, mengambil gelas, minum air dingin dari dispenser sambil membuka KULKAS yang terletak di sampingnya. Dan, seperti biasanya, isinya  ....kosong.


Aku tahu bahwa KULKAS dua pintu itu kosong, masih menyimpan ruangan yang sangat lega untuk memasukkan aku sekalipun. Akan tetapi, tiap kali aku melihatnya, aku selalu ingin membuka. Berharap, seakan ada sesuatu yang bisa melegakan kehausan atau berharap bahwa KULKAS itu akan berperan laksana kantong ajaib pak Janggut yang mengeluarkan benda sesuai kebutuhanku. Biasanya memang kosong, dan selalu akan kosong.

Bila dicermati, KULKAS itu berdiri megah, dengan nuansa dingin bila dibuka, tapi isinya tak sebanding bodynya yang megah. Di pintu atas, biasanya tersedia es batu standar kotak-kotak kecil, dan es batu besar dengan plastik sebesar mangga. Kadang ada juga es krim sisa perayaan ulang tahun,tapi tetap saja masih banyak ruang kosong di dalamnya.

Di pintu bawah yang lebih besar, biasanya ada beberapa telor asin, roti tawar untuk sarapan, susu cair tanpa lemak, keju kraft lembaran serta satu atau dua apel di rak paling bawah. Sisa sambal yang cukup enak kadang juga masih ada, tapi kebanyakan....ruang kosong.

Aku tahu bahwa KULKAS itu kosong, dan biasanya akan tetap KOSONG, tapi selalu ada keinginan untuk membukanya, dan berharap ada sesuatu yang bisa memuaskan hati. Setelah kutanyakan, ternyata hampir semua penghuni rumah juga melakukan hal yang sama. Menyempatkan diri membuka KULKAS dengan harapan ada sesuatu yang baru, yang lain dari biasanya yang bisa menjadikan semangat. Yang menjadi semangat bukan pengalaman mendapatkan sesuatunya, tapi pengalaman berhadapan dengan KULKAS yang selalu kosong dan keinginan untuk membukanya.

Aku mencoba memahami bahwa gairah untuk bertindak, melakukan sesuatu (membuka pintu KULKAS) adalah suatu harapan. Harapan itu menempatkan suatu tujuan di depan sana, dengan tetap terbuka akan adanya  surpraise. Ada misteri dalam suatu harapan dan itulah keindahan harapan.

Apakah memang seperti inilah menjadi manusia yang selalu belajar berharap ? Memiliki semangat bahkan dalam rutinitas dan kebosanan (tahu bahwa KULKAS biasanya kosong) karena yakin bahwa ada misteri, ada "sesuatu" di depan sana yang menggerakkan.

KULKAS di ruang makan tetap saja berdiri kokoh, tertutup, dan mungkin akan selalu kosong, tapi orang-orang di hadapannya itulah yang selalu menyimpan harapan akan yang menggerakkan untuk selalu membuka dan membuka terus.

(untuk teman-temanku yang akan berangkat  PROYEK HARAPAN)
Sumber gambar : SINI

4 komentar:

applausr said...

iya sejak tidak banyak makan yagn dingin dingin memang jarang buka kulkas, tapi setelah di pikir pikir betul juga tulisanmu ini.. Dulu sering lihat lihat kali kali ada hal yang menarik untuk di lihat ya...

Mahatma said...

@applausr : hehehe....tiap deket kulkas bawaannya pengin buka, padahal ya tahu kalo isinya paling kosong hehehe...

ponakan :) said...

seneng bacanya... ini juga jadi kebiasaanku om klo pulang dari pergi. hehe.. enak dingin, bahkan suka ngadem dulu didepannya :D
terima kasih membukakan mata, hal yang biasanya ternyata punya makna diluar dari biasanya. :))

Mahatma said...

hehehe...selamat ngadem ya !

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.