Sapto Nugroho, Direktur Talenta mengatakan bahwa komunikasi dengan teman diffable biasanya dimulai dengan asumsi. Masyarakat umum mengatatakan bahwa kaum diffable biasanya temperamental, sedangkan teman diffable mengatakan bahwa orang kebanyakan itu belum tentu menerima mereka. Komunikasi dengan cara pandang seperti itu, kelihatannya tidak mempertemukan, tetapi memperlebar jarak.
Hari ini, 11 Juni 2010, Bengawan mendapat sekretariat baru, di Jalan Apple III nomor (...lali...). Rumah itu adalah sekretariat yayasan Talenta. Talenta adalah organisasi yang mewadahi teman-teman diffable (different ability). Mereka yang dahulu disebut penderita cacat, penyandang cacat, sekarang menyebut diri sebagai yang memiliki kemampuan lain.
Perbicangan ini membuka cakrawalaku (juga teman-teman Bengawan) tentang diffable. Diffable bukan disable (dis + ability), juga bukan penyandang cacat. Penyebutan yang berbeda ternyata memperlihatkan latar belakang pemikiran/ideologi orang yang menyebut. Penyebutan cacat mengandung arti hal yang tidak sempurna, yang layak dibuang atau diafkir. Penyebutan penyandang juga kurang tepat karena biasanya penyandang digunakan untuk sesuatu yang membanggakan (penyandang dana, penyandang gelar,dll), sedangkan cacat bukan sesuatu yang dapat dibanggakan dengan mudah. Penyebutan penderita juga tidak pas, karena menurut Kang Sapto Nugroho, dia dan teman-temannya tidak merasa menderita. Penyebutan disable juga tidak trep karena mengandung pemikiran bahwa teman-teman disabel tidak memiliki kemampuan apapun.
Selain pemahaman tentang penyebutan, perjumpaan dan sharing dari Kang Sapto menunjukkan bahwa Kang Sapto bukan tipe orang yang minta dikasihani, tetapi minta diperlakukan biasa saja. Ia bisa mentertawakan diri sendiri, tanda penerimaan dan kedewasaan. Intinya, komunikasi dengan teman-teman diffable (juga kepada siapapun) tidak akan berjalan bila dimulali dengan asumsi. Komunikasi dengan teman diffable (juga kepada siapun), bisa dimulai dengan melihat kemampuan, kesamaan, hobi, kesukaan, dll.
Kata Kang Sapto "siapa sih orang yang tidak kerasa bila diajak bicara tentang cacat tubuh atau kelemahan". Mungkin lama-lama bisa, tetapi sebagai pintu masuk, komunikasi lebih mudah bila dimulai dengan hal yang positif.
June 11, 2010
ASUmsi dan diffable
Diposkan oleh
Mahatma
di
Friday, June 11, 2010
2
komentar
Label: Bengawan, Diffable, Disable, Komunikasi, Sapto Nugroho, SOLO, Talenta
February 25, 2009
setelah launching ?

Pertanyaan yang muncul setelah hingar bingar acara launching adalah, trus ngapa ? Apakah yang mempersatukan Bengawan? Komunitas yang sangat cair ini disatukan oleh kepemilikan blog dan keterikatan kota. Siapapun dengan latar belakang apapun, asal punya blog dan memiliki keterikatan dengan kota Solo boleh masuk.
Kembali lagi, ini benar-benar komunitas kategorial. Ada sedikit "bau" teritorial, tetapi tidak mutlak. Ciri komunitas yang terbantuk karena kesuburan arus informasi ini, mulai mempertanyakan dirinya setelah mulai sedikit diformalkan alias dilaunching. Ciri komunitas semacam ini sebenaranya ingin keluar dari tipikal komunitas atau organisasi militan yang disatukan dengan suatu visi tertentu. Sifat cair dari komunitas ini, secara paradoksal malah dengan sengaja diformalkan. Launching atau pembentukan komunitas, tentu membutuhkan pranata seperti pengurus, administrasi, logo, lambang, dan bahkan bisa jatuh kepada birokrasi. Padahal hal semacam itulah yang sebenarnya sedang ditolak (entah disadari entah tidak).
Arah dari komunitas semacam ini memang kesatuan ke dalam, tetapi bila tidak hati-hati akan asyik pada dirinya sendiri dan lupa bahwa realitas di sekitarnya butuh bantuannya. Walau tiap orang bisa memiliki beragam motif bergabung, komunitas macam ini muncul dari ketidakberanian manusia untuk memeluk sepi. Hal ini nampak jelas dari kesan pada waktu launching. Setiap komunitas tetap terpaku pada komunitasnya dan tidak cepat membaur. Sifat manusia yang jelas terlihat di sini adalah sifat bergerombol, ada dalam kerumunan. Ke-AKU-an diafirmasi dalam kebersamaan, dan yang lain adalah liyan. Lebih parah lagi, saat merasa bahwa komunitas ini adalah golongan elit manusia yang sudah melek informasi, padahal hal ini adalah celah untuk bisa berbuat lebih bagi orang lain. Dua program yang sudah keluar adalah pengumpulan buku dan pusat informasi banjir (viva bengawan !!)
Secara khusus, membahas launching, hal yang paling menarik adalah cara Walikota, JOKOWI, menarik perhatian warganya demi suksesnya program yang ia buat. Cara yang dibuat sangat manusiawi, yaitu "nguwongke" setiap warga sehingga semua didengarkan dan dirangkul. Tiap kali akan mengadakan program, pendekatan dilakukan dengan makan bersama. Hal itu dirasa berdampak positif. Bahkan, bengawanpun dirangkul dengan cara yang sama yaitu diberi makan dan difasilitasi tempat launching. Tujuannya jelas, Solo ingin disebarluaskan, diwartakan dan diperkenalkan. Dan memang sudah selayaknya.
Pertanyaannya : Apakah BENGAWAN kemudian akan dengan mudah menjadi "juru penerang" bagi program kota SOLO ? bukankah sudah banyak media yang melakukannya dengan cara yang murahan ? memuja-muja, memuji-muji ?
Bukankah Walikota dan pemerintah kota akan lebih senang bila yang muncul adalah kritik dan saran baginya ? Ingat kata teman kita Tukul Arwana bahwa pujian adalah ilusi, kita perlu hati-hati. Bengawan bisa banyak berbuat untuk Solo bila bisa memberikan masukan dan kritikan daripada puja-puji.
***
Gema euforia launching masih bergetar, semangat untuk berkumpul dan berbuat sesuatu sedang menggema, semoga tidak memudar menjadi suatu antiklimaks yang melemahkan tetapi menjadi suatu happy beginning untuk kegiatan yang lebih membangun....
{gambar diambil dari http://bengawan.org/wp-content/uploads/2009/02/launching2.jpg}
Diposkan oleh
Mahatma
di
Wednesday, February 25, 2009
7
komentar
Copyright © 2011 mahatmaberkata-kata
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web