Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

May 31, 2010

SMK : Sekolah Pencetak Superman

KOMPAS, Kamis, 20 Mei 2010

Tingkat kelulusan ujian nasional sekolah menengah kejuruan tahun 2010 mengalami penurunan. Kompas.com (29/4) menuliskan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh program "SMK Bisa". Seberapa besar program "SMK Bisa" memengaruhi turunnya tingkat kelulusan SMK tahun ini?

Dalam ranah praktis, program "SMK Bisa" tidak mengubah kurikulum SMK yang sudah ada. Program tersebut menaikkan citra SMK dan mendorong masyarakat untuk memilih pendidikan SMK yang lebih memberikan kepastian pekerjaan. Diharapkan terjadi peralihan perbandingan SMA dan SMK menjadi 70 persen SMK dan 30 persen SMA di akhir 2015.

Di balik program tersebut, ada keinginan untuk menciptakan pekerjaan dan mengurangi pengangguran. Logikanya, semakin banyak SMK, semakin banyak pula anak Indonesia yang siap bekerja. Sebaliknya, semakin banyak SMA akan memperbanyak pengangguran karena tidak semua lulusan SMA dapat meneruskan ke perguruan tinggi. Apa yang terjadi di lapangan? Beban berat bagi SMK.

Mata pelajaran di SMK yang digunakan untuk ujian nasional (UN) ada empat, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Teori Kejuruan. Jumlah itu lebih sedikit dari mata pelajaran yang digunakan untuk ujian bagi SMA jurusan IPA (6), IPS (6), maupun Bahasa (6). Akan tetapi, dalam kenyataannya, siswa SMK tetap mendapatkan pelajaran yang sama, bahkan lebih banyak daripada siswa SMA jurusan IPA, IPS, maupun Bahasa.

Siswa SMK mendapatkan pelajaran, di luar praktik, yang cukup banyak seperti Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani, Matematika, Fisika, IPA, Kimia, Biologi, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya, Keterampilan Komputer, dan Kewirausahaan. Semua mata pelajaran itu juga menjadi bahan ujian sekolah. Dengan demikian, siswa SMK menerima kompilasi mata pelajaran yang diterima oleh siswa SMA jurusan IPA, IPS, dan Bahasa.

Selain itu, siswa SMK juga masih dituntut keterampilan berhubungan dengan kejuruan yang dipilih, misalnya Teknik Permesinan, Otomotif, Boga, dan lain-lain. Keterampilan tersebut mensyaratkan adanya ujian kompetensi. Oleh karena itu, selain UN dan ujian sekolah, siswa SMK masih harus menjalani ujian kompetensi yang diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Susunan kurikulum SMK menampakkan kecenderungan untuk membentuk siswa menjadi manusia serbabisa, superman. Muatan kurikulum SMK itu adalah cerminan dari banyaknya pihak yang turut berkepentingan dalam pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan kejuruan.

Bukan lagi terminal

Dari ranah teoretis, program "SMK Bisa" juga memperlihatkan perubahan paradigma SMK. Selama ini, masyarakat umum melihat bahwa SMK adalah terminal atau akhir dari suatu tahapan pendidikan. Lulusan SMK tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi tetapi langsung bekerja.

Dengan cakupan muatan kurikulum yang cukup luas itu, SMK bukan lagi terminal. Lulusan SMK semakin mudah meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan SMK tidak lagi bersifat terminal tetapi antisipatif. Lulusan SMK dapat langsung bekerja tetapi dapat juga melanjutkan ke perguruan tinggi. Pihak yang diuntungkan dengan paradigma ini adalah siswa dan lembaga perguruan tinggi. Siswa mendapatkan keuntungan karena kemungkinan yang semakin terbuka lebar. Adapun lembaga perguruan tinggi tetap mendapatkan mahasiswa.

Manusia yang sama

Muatan kurikulum yang cukup berat bagi SMK ini disusun berdasarkan profil lulusan yang diharapkan, yaitu mengakomodasi kepentingan perguruan tinggi, dunia industri, dan kepentingan lain. Dengan kata lain, muatan kurikulum ini tidak dimulai dari dasar yang sama bahwa manusia yang dihadapi baik SMA maupun SMK itu sama. Kelemahan menyusun suatu program atau kurikulum hanya berdasarkan profil lulusan yang diharapkan adalah tidak mendarat dan tidak menyentuh sisi visi pendidikan manusia Indonesia.

Dengan "bahan dasar" yang sama, yaitu manusia yang sama, SMK ingin mencetak manusia-manusia super sekaligus mengatasi beberapa masalah seperti pengangguran. Manusia tidak lagi dilihat sebagai pribadi yang memiliki potensi sekaligus keterbatasan, tetapi dilihat sebagai bahan mentah yang siap olah tergantung pabrik pengolahnya.

Semakin lama pengolahan dan semakin banyak unsur yang ditambahkan, semakin optimal juga manusia yang akan dihasilkan. Dengan kata lain, manusia diperlakukan sebagai suatu produk yang diolah sesuai dengan tuntutan berbagai pihak yang membutuhkan seperti dunia industri, perguruan tinggi, maupun permintaan orangtua siswa.

Menata kurikulum

Pendapat bahwa program "SMK Bisa" menjadi sebab turunnya angka kelulusan SMK tahun ini tak seluruhnya benar. Turunnya tingkat kelulusan SMK tahun ini, secara umum, disebabkan oleh beban kurikulum SMK yang berorientasi pada pembentukan manusia super. Beban tersebut dapat berkurang dengan menata kembali kurikulum SMK sesuai dengan keterampilan yang dikhususkan.

Situs Jaringan Pendidikan Nasional, pada Hari Pendidikan Nasional (2/5), menyimpulkan adanya lima perubahan paradigma yang dilakukan Kementerian Pendidikan Nasional. Semoga perubahan paradigma SMK sebagai pencetak superman juga menjadi agenda pemerintah sehingga pendidikan karakter bangsa yang diharapkan juga semakin terwujud.

MAHATMA CHRYSHNA Guru SMK Mikael Surakarta

March 14, 2010

Kamu boleh nakal, asalkan pandai !

Kamu boleh nakal, asalkan pandai !

Hal itulah yang masih kuingat saat aku SD. Saat itu, salah satu om yang baru saja pulang dari bekerja di Kapal Pesiar berkunjung ke rumahku. Melihat om yang datang, aku usil dan menganggu dia selama berkunjung ke rumah. Dia melihat bahwa aku termasuk anak yang nakal menurut ukurannya. Karena kenakalanku itulah, maka aku diberi nasehat untuk menjadi pintar di sekolah. Menjadi anak yang nakal itu bukan masalah, asalkan pandai. Maka, akupun memperlihatkan nilai-nilaiku yang bagus, prestasi akademis di sekolah yang memuaskan. Omku diam, tak lagi berkomentar.

Sekarang aku mendampingi banyak anak muda. Bila aku ingat nasehat itu, kelihatannya, kepandaian, kepintaran itu derajatnya lebih tinggi daripada menjadi anak baik. Bila aku sendiri mengungkapkan kepada anak-anak dampinganku, kelihatannya tidak ada gunanya lagi. Apakah benar bahwa yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah orang yang pandai tetapi seenaknya sendiri, atau dalam bahasa umum dianggap nakal ?

Banyak diskusi tentang kenakalan remaja, ada yang melihat sebagai sesuatu yang wajar, tetapi ada yang melihat sebagai masalah. Tentu yang menjadi masalah bukan kenakalan anak kecil yang belum bisa dimintai tanggungjawab karena belum tahu apa yang diperbuat. Yang dimaksud nakal di sini adalah pilihan sikap, atas dasar kesadaran sehingga bisa dimintai tanggungjawab. Pertanyaanya, apakah kepandaikan seseorang menjadikannya imun terhadap kenakalan ? Apakah orang yang pandai sajakah yang patut dihargai ? Bila kepandaian adalah anugrah Tuhan, apakah usaha manusia ? Apakah kebaikan tidak mendapat tempat di dalam pendidikan anak ? apakah sekolah hanya akan mencetak anak pandai secara intelektual, dalam arti sempit, pandai dalam mata pelajaran di sekolah ?

Bila memang demikianlah yang diinginkan oleh kebanyakan orangtua terhadap anaknya, menjadi gampang tugas seorang guru, seperti guru les, seperti penjual ilmu, yang penting laku jualannya. Titik. Tak lagi perlu pendidikan nilai, pendidikan karakter bagi anak. Tak lagi perlu ada peraturan sekolah, pokoknya anak nilainya baik, orangtua puas. Tetapi apakah benar demikian ?

Aku termasuk yang tidak setuju dengan pernyataan “anak boleh nakal asalkan pandai”. Alasanku, anak boleh nakal asalkan tahu apa yang membuat dia nakal. Atau nakal yang bermutu. Dalam bahasa Jawa ada yang disebutsembodo. Nakal tetapi pandai itu bukan sembodo, tetapi membandingkan sesuatu yang lain tempatnya. Sembodo itu tanggung jawab dan konsisten. Ada anak yang suka minta ijin keluar kelas untuk suatu tugas kepanitiaan, tetapi dia belajar keras di rumah untuk mengejak ketertinggalan, dan dia bisa mengejarnya. Itu sembodo. Orang yang tidak sembodo bisa ditemui dalam sikap orang yang tidak konsisten. Misalnya, di hadapan orangtua dan keluarga kelihatan jagoan, sok melawan, tetapi di sekolah menjadi penakut. Itu tidak sembodo.

Anak yang nakal tetapi pandai bukan sembodo tetapi semata anak yang bejo, atau beruntung. Di sini ada suatu pertentangan yang tidak seimbang. Dalam perkembangnyannya, internalisasi nilai “nakal tetapi pandai” bisa menjadi “korupsi tetapi pandai”, atau juga “maling tetapi tidak ketahuan”, atau bisa menjadi “penjahat tetapi pejabat”. Akan muncul excuse yang berhubungan dengan nilai yang dianggap lebih tinggi derajatnya. Tak ada yang pasti tentang nilai ini, tetapi ini adalah pilihan yang perlu diambil di antara area abu-abu.

Powered by Blogger.