Mungkinkah ada ketulusan ? atau tentang Cinta Ibu pada anaknya.

in


Saya ingin bercerita tentang cinta. Suatu kali seorang rekan bercerita bahwa sampai beberapa tahun berpacaran, dia masih belum yakin bahwa pacarnya mencintai dengan tulus. Sebagai seorang wanita yang cukup aktif dengan berbagai kegiatan dan punya banyak koneksi, teman saya itu sudah sering bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang dan motivasi. Dunia yang empiris mengajarinya melihat manusia juga dengan praktis. Setiap orang punya kepentingan, demikian ungkapnya.

Beranjak dari pengalamannya, diapun menilai pacarnya yang sekarang memiliki kepentingan dengan mau berpacaran dengannya.  Sebelum berpacaran dengan pacar yang sekarang, teman saya ini pernah punya kesimpulan bahwa pacaran atau punya suami itu tidak penting. Kesimpulan tersebut muncul setelah dia putus dengan pacarnya yang lama.  Cukup lama dia menikmati pendapatnya tanpa berpacara sampai akhirnya datang seorang pemuda yang memberi pengertian baru tentang baiknya hidup punya pacaran dan punya pasangan.   Pemuda tersebut adalah pacarnya yang sekarang. Akan tetapi, setelah berberapa tahun pacaran, teman saya masih juga belum yakin bahwa pacarnya memacarinya dengan ketulusan cinta, tanpa ada pamrih apapun. Beberapa pertanyaan yang sering muncul adalah : Apakah pacarku ini memacari karena punya kepentingan kemudahan relasi ? Apakah dia memacariku semata karena aku punya banyak relasi ? Suatu pertanyaan tentang relasi.

Menanggapi hal itu, saya menimpali bahwa tidak ada orang yang tidak berpamrih. Semua orang berpamrih. Jangan terburu-buru untuk menilai ! Pamrih di sini saya gunakan sebagai suatu kata netral, dengan makna yang sejajar dengan motif. Setiap orang punya motif dalam bertindak. Motif bisa dinilai negatif  maupun positif dalam kacamata moral. Mungkin saja ada orang berpacaran karena pacarnya punya mobil sehingga ada yang bisa antar jemput. Ada juga orang berpacaran karena tertarik dengan hobi pacarnya sebagai fotografer sehingga bisa difoto terus. Apapun tindakannya, selalu ada motif yang menyertai. Tanpa harus cepat menilai suatu pamrih, semua orang itu berpamrih.

Oleh karena itu, perlu ditanyakan bila ada pendapat yang mengatakan bahwa orang perlu bertindak tanpa pamrih, mungkinkah hal itu dilakukan ? Mari dilihat sedikit demi sedikit. Dalam tindakan manusiawi seperti makan, minum, sex, ke belakang, tidur, semuanya didorong dan dilakukan demi suatu motif tertentu yaitu pemenuhan kebutuhan manusiawi. Makan karena lapar, minum karena haus, ke WC karena kebelet. Bila diperluas lagi, tindakan manusia seperti olahraga, mengetik, menyopir, semuanya punya tujuan. Bagaimana dengan tindakan seni ? melukis, bermain music ? Orang ingin mengekspresikan perasaannya dengan music, menikmati music demi sesuatu. Ada motif dalam tindakan, entah motif tersebut dianggap luhur atau rendah oleh tata nilai tertentu. Mungkin penggunaan kata “pamrih” lebih condong pada motif yang dianggap rendah oleh tata nilai moral masyarakat. Bila demikian adanya, biarlah saya gunakan kata motif daripada pamrih. Tiap orang punya motif, entah motif pribadi, surga, atau orang lain.

Saya tidak ingin berjalan bersama dengan Derrida yang merefleksikan “ketidakmungkinnan memberi tanpa mengharapkan imbalan”. Kembali saya ingin masuk dalam cerita cinta. Kepada teman saya itu, bila semua orang punya motif, apakah ada yang salah bila memasukkan motif dalam CINTA ? misalkan saja, saya mencintai pacar saya karena dia cantik, karena dia pandai, karena dia cocok dengan pemikiran saya. Atau juga, saya mencintai pacar saya walaupun dia miskin, walaupun dia bodoh, walaupun dia kuper. Perubahan kata “karena” menjadi “walaupun” adalah perubahan sudut pandang. Walaupun sama-sama punya motif bila ditanya, preferensi penggunaan kata “walaupun” memberikan penekanan pada penilaian cinta. Orang akan lebih merasa dicintai bila ungkapan yang muncul lebih bernuansa “walaupun” daripada bernuansa “karena”. Dan cinta yang semacam itu, dipraktekkan dan dilakukan oleh kebanyakan orangtua, terutama para ibu.

Cinta para ibu terhadap anak-anak mereka dihubungkan oleh suatu “karena” yaitu relasi ibu-anak. Akan tetapi, cinta yang diberikan ibu kepada anak, tetap saja akan diberikan dalam situasi “walaupun”.  Dan di sini letak tantangan bagi mereka yang mencintai. Teman saya itu menambahkan bahwa sekarang yang dia inginkan adalah kenginan untuk lebih banyak memberi, lebih banyak mencintai. Dia lebih ingin punya anak yang bisa dia cintai, bisa dia beri sesuatu, daripada punya pasangan yang seringkali menimbulkan tanya tentang suatu cinta yang “karena”.  Semoga teman saya itu semakin mendalami cintanya dengan pacarnya, saling mencintai “walaupun” dan berjuang dalam cita-cita bersama. Selamat berjuang dalam cinta ! 

Saya tidak punya waktu bicara tentang Tuhan

in

Kutipan di atas adalah pernyataan Choan Seng Song yang saya dapatkan dari Dosen baru saya ketika kuliah Teolog-teolog Asia. Pernyataan tersebut cukup keras karena berusaha menempatkan pembicaraan tentang Tuhan dalam suasana ketergesaan, dalam situasi bahwa Tuhan harus dibicarakan secara "cekak aos", secara "concise". Pernyataan tersebut juga menampakkan suatu luapan semangat dalam nuansa kemarahan dengan nada ejekan ketika berhadapan dengan orang yang dengan mudah dan sering berbicara tentang Tuhan. Bagi Song, pembicaraan tentang Tuhan ditantang oleh kemendesakan situasi di hadapannya yang tidak bisa menunggu untuk tidak disapa. Situasi Asia yang khas di setiap tempat membuat setiap pembicaraan tentang Tuhan mengambil jatah waktu/kesempatan untuk berbicara tentang situasi aktual di hadapan setiap orang di Asia ketika mulai berbicara tentang Tuhan. Situasi macam apakah yang dihadapi oleh Teologi Asia secara umum ?


 Ada beberapa hal yang bisa disebut, secara umum tentu saja. Asia dengan keragaman budaya, keragaman agama menampakan juga kesamaan persoalan meliputi kesamaan bekas jajahan Barat atau pernah merasakan sebagai bagian dari gerak kolonialisasi barat dengan aksesnya yaitu situasi kehancuran pasca perang. Situasi Post Kolonial itu membentuk kehidupan yang khas sesuai dengan negara yang menjajahnya, entah Inggris, Belanda, maupun Portugis. Suasana lain yang sama adalah suasana kemiskinan yang menandai sebagian besar wilayah Asia, dengan perkecualian negara Asia yang jauh dari perkara kemiskinan seperti Jepang.

Beberapa hal di atas memberikan gambaran uniknya suasana Asia. Kesadaran akan keunikan tersebut dilanjutkan dengan munculnya kemendesakan yang tidak bisa diabaikan berhadapan dengan persoalan di depan mata setiap orang yang ingin berteologi khas Asia. Suasana kemendesakan tersebut meminta untuk selalu ditanggapi daripada sibuk berbicara tentang Tuhan.

Di Indonesia, yang juga Asia ini, kemendesakan apakah yang menuntun seorang Teolog untuk tidak terlalu lama dan berbicara tentang Tuhan yang abstrak-jauh, namun terus maju dan menanggapi persoalan yang hadir-hidup di hadapannya ? Pertanyaan ini sungguh menggelitik saya sampai saat ini. Indonesia dengan keragaman budaya dan agama sungguh mencerminkan suasana Asia yang dijadikan locus teologicus bagi teologi Song. Secara lebih konkret, manusia Indonesia dengan persolan hidup macam apakah yang mendesak untuk segera disapa sebagai suatu rumah teologi yang nyata ?

  (masih akan berlanjut) 

Gambar CS Song dikutip dari : http://www.cssong.org/home.html

Gambar Indonesia dikutip dari : http://2.bp.blogspot.com/_7_Y-9u_dgfM/TODZ8k5RYLI/AAAAAAAAAHA/pnyEiXiZuUA/s1600/kemiskinan-masal-bajaj-anak-nalumsari-jepara-jawa-tengah.jpg