May 09, 2014

LHOGOK, CENCENGPO dan GONDHES


Selama pulang dan tinggal di rumah, suasana kampung halaman menawarkan bunyi-bunyian yang lama tak terdengar di telinga.

Bunyi pertama adalam “lhogok”.  Bunyi “lho” diucapkan dengan aksen jawa, bukan seperti “lho!” dalam bahasa Indonesia. Sampai saat ini , penulis tidak dapat mencari padanan bunyi ini. Sementara, bunyi “gok” diucapkan biasa.  LHOGOK  merupakan umpatan khas Ambarawa dan sekitarnya di tahun 90-an yang kadang masih juga terdengar sampai sekarang. Perasaan puas biasanya akan menemani mereka yang mengucapkan lhogok dengan lugas dan ekspresif.


Selain “lhogok”, ada juga “cengcengpo”. Kemungkinan besar, umpatan ini berhubungan 
dengan ungkapan cina Semarangan yang masuk ke Ambarawa. Bunyi “ceng” diucapkan seperti “enCENG gondok”, sedang bunyi “po” diucapkan seperti “kepo”.  CENGCENGPO kurang lebih berarti penakut, pecundang. Lebih tepatnya, cengcengpo digunakan untuk melabeli mereka yang memiliki tampilan  yang kuat, bisa diandalkan (nampaknya) namun tidak menunjukkan sikap seperti yang diharapkan.

Bunyi ketiga adalah “gondhes”. Barangkali bunyi ketiga ini masih banyak digunakan sampai sekarang, juga di luar Ambarawa. Ada yang mengartikan GONDHES sebagai singkatan dari “gondrong ndeso” (desa). Akan tetapi, banyak yang lebih menggunakannya sebagai kata dengan arti orang yang tidak  taat aturan, orang yang terkesan berandalan, bahkan seringkali dugakan sebagai sapaan hangat antar kawan dekat.  Nuansa meremehkan akan nampak tatkala gondhes (ndes) diucapkan kepada mereka yang belum begitu kenal.

Bunyi-bunyian yang muncul kembali di kampung halaman semacam sebuah "kalibrator"yang membuat kita kembali in tune dengan suasana kampung halaman. Lebih lagi, hal ini membuat kita sadar dari mana kita berasal, di mana kita sekarang dan ke mana kita akan melangkah.  

“Pulang” memang bukan milik mereka  yang nomaden. Pulang hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki tujuan, asal usul, dan pegangan hidup.  Salah satunya, pulang berarti kembali ke tempat/situasi asal dan menyempitkan jarak untuk menyadari kemanusiaan kita bahwa nantinya kita juga akan pulang ke asal dan tujuan hidup kita. 
Jangan lupa pulang!




14 komentar:

Andy MSE said...

Sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya:
Ada kosakata "dlogok" yang artinya bekas/mantan, misalnya dlogok bajingan artinya mantan bajingan.
Ketika tengah dekade lalu saya pindah ke Solo, tiba-tiba terasa aneh ketika mendengar lhogok jadi umpatan. entah ada hubungannya dengan kata dlogok atau tidak, saya tidak tahu.
Cengcengpo sudah pernah saya dengar jauh sebelumnya, sekitaran masa saya SMP-SMA. Di kampung saya diartikan sebagai cengar-cengir plonga-plongo. Sedangkan gondhes sudah saya tahu sejak masa kanak-kanak.
Beberapa bulan terakhir ini saya berdomisili di lingkungan berbahasa Indonesia dan Sunda, jadi kangen Jawa nih! :D

Stella Vania said...

ada film pendek yang apik judulnya cheng cheng po, udah pernah lihat belum, Kak Ndes?

Aloysius Triyanto said...

Klau dijogja ada istilah dab.. gek..

didut said...

cah semarang juga sering pake gondhes ^^

Mahatma Chryshna said...

@Andy MSE: ya bener kang, bunyi masa lalu. Cengcengpo jebulane ada kepanjangane juga ya ? hehehe..
Asal-usul ndlogok baru tahu juga nih, izin tak masukkan yah hehehe...

salam di tlatah Sunda

Mahatma Chryshna said...

@Stella Vania:
Ketoke pernah dengar, tentang multikulturalisme gitu yah?
durung ndelok nduk, punya pinjamannya? hehehe...

Mahatma Chryshna said...

@Aloysius Triyanto: iya pak, ini juga pernah jadi bahasa harianku hehehe..http://mahatmaberkata-kata.blogspot.com/2010/11/dab-ndes-bro-cuk-boss.html

Mahatma Chryshna said...

@didut: iya bener sekali, dan Ambarawa adalah perpaduan Semarangan, Solo dan Jogja, jadi kena semua hehehe...

Stella Vania said...

@Kak Ndes Atma: iya bener, tentang multikulturalisme gitu.. aku ada filmnya, Kak Ndes hehe :D

Galih Prakoso said...

Hahaha. Ini melanjutkan tulisan dab, jancuk yg doloe nih. Kirain dah vacuum nge blog pak frat. Ntar klo ane nulis di kompasiana mampir pak frat. Klo skrg lg sibuk nulis skripsi.

Mahatma Chryshna said...

@Galih Prakoso: wah kompasianer juga nih hehehe..oke nanti tak mampir, selamat melanjutkan skripsi ya bro, semoga lancar dan sukses...semangat !!!

Mahatma Chryshna said...

@Stella Vania: oke siap, ntar aku pinjam yah pas di Jogja, salam...

noki said...

Ter ne Di*ldo opo? #elengukumanmujamanSTMpeng50ngomong.
Heheh...

SarangKalong said...

dan... aku terdampar di blog-mu... wakakakakakaka

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.