March 14, 2010

Kamu boleh nakal, asalkan pandai !

Kamu boleh nakal, asalkan pandai !

Hal itulah yang masih kuingat saat aku SD. Saat itu, salah satu om yang baru saja pulang dari bekerja di Kapal Pesiar berkunjung ke rumahku. Melihat om yang datang, aku usil dan menganggu dia selama berkunjung ke rumah. Dia melihat bahwa aku termasuk anak yang nakal menurut ukurannya. Karena kenakalanku itulah, maka aku diberi nasehat untuk menjadi pintar di sekolah. Menjadi anak yang nakal itu bukan masalah, asalkan pandai. Maka, akupun memperlihatkan nilai-nilaiku yang bagus, prestasi akademis di sekolah yang memuaskan. Omku diam, tak lagi berkomentar.

Sekarang aku mendampingi banyak anak muda. Bila aku ingat nasehat itu, kelihatannya, kepandaian, kepintaran itu derajatnya lebih tinggi daripada menjadi anak baik. Bila aku sendiri mengungkapkan kepada anak-anak dampinganku, kelihatannya tidak ada gunanya lagi. Apakah benar bahwa yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah orang yang pandai tetapi seenaknya sendiri, atau dalam bahasa umum dianggap nakal ?

Banyak diskusi tentang kenakalan remaja, ada yang melihat sebagai sesuatu yang wajar, tetapi ada yang melihat sebagai masalah. Tentu yang menjadi masalah bukan kenakalan anak kecil yang belum bisa dimintai tanggungjawab karena belum tahu apa yang diperbuat. Yang dimaksud nakal di sini adalah pilihan sikap, atas dasar kesadaran sehingga bisa dimintai tanggungjawab. Pertanyaanya, apakah kepandaikan seseorang menjadikannya imun terhadap kenakalan ? Apakah orang yang pandai sajakah yang patut dihargai ? Bila kepandaian adalah anugrah Tuhan, apakah usaha manusia ? Apakah kebaikan tidak mendapat tempat di dalam pendidikan anak ? apakah sekolah hanya akan mencetak anak pandai secara intelektual, dalam arti sempit, pandai dalam mata pelajaran di sekolah ?

Bila memang demikianlah yang diinginkan oleh kebanyakan orangtua terhadap anaknya, menjadi gampang tugas seorang guru, seperti guru les, seperti penjual ilmu, yang penting laku jualannya. Titik. Tak lagi perlu pendidikan nilai, pendidikan karakter bagi anak. Tak lagi perlu ada peraturan sekolah, pokoknya anak nilainya baik, orangtua puas. Tetapi apakah benar demikian ?

Aku termasuk yang tidak setuju dengan pernyataan “anak boleh nakal asalkan pandai”. Alasanku, anak boleh nakal asalkan tahu apa yang membuat dia nakal. Atau nakal yang bermutu. Dalam bahasa Jawa ada yang disebutsembodo. Nakal tetapi pandai itu bukan sembodo, tetapi membandingkan sesuatu yang lain tempatnya. Sembodo itu tanggung jawab dan konsisten. Ada anak yang suka minta ijin keluar kelas untuk suatu tugas kepanitiaan, tetapi dia belajar keras di rumah untuk mengejak ketertinggalan, dan dia bisa mengejarnya. Itu sembodo. Orang yang tidak sembodo bisa ditemui dalam sikap orang yang tidak konsisten. Misalnya, di hadapan orangtua dan keluarga kelihatan jagoan, sok melawan, tetapi di sekolah menjadi penakut. Itu tidak sembodo.

Anak yang nakal tetapi pandai bukan sembodo tetapi semata anak yang bejo, atau beruntung. Di sini ada suatu pertentangan yang tidak seimbang. Dalam perkembangnyannya, internalisasi nilai “nakal tetapi pandai” bisa menjadi “korupsi tetapi pandai”, atau juga “maling tetapi tidak ketahuan”, atau bisa menjadi “penjahat tetapi pejabat”. Akan muncul excuse yang berhubungan dengan nilai yang dianggap lebih tinggi derajatnya. Tak ada yang pasti tentang nilai ini, tetapi ini adalah pilihan yang perlu diambil di antara area abu-abu.

8 komentar:

OdyDasa said...

Pinter = bisa membedakan yg benar & yg salah

geblek said...

sudah nakal gak pinter, apes ? :)

mahatma chryshna said...

@ ody : setuju kang !
@ geblek : akeh tunggale kui kang hahaha...

Maslie said...

Nakalnya anak kecil masih lumrah dibanding kalau nakalnya orang dewasa

mahatma chryshna said...

@ maslie : iyo, berbeda tetapi konsep Nakal boleh itu yang mungkin bisa terbawa kang...

daniel wahyu perbawa said...

keren kie postingan ter...
ter aku wis pinter,oleh nakal kie brarti???
hahahaha
q newbi kie d bengawan diajakin indro...
ane follow blog ini
follow back ya ter thxiu..
ane salah satu anak didiknya :P hahahahha
ATMI never die

Puri said...

Mungkin inilah yang menyebabkan orang indonesia itu "pandai berbuat nakal"...

Salam kenal kk ^_^

Haruskah Anak Dipenjara? said...

sip...

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.