August 21, 2010

Gua Maria Lawangsih : Benar-benar GUA


Mengapa Gua Maria ? bukan Gua Allah, Gua Yesus, Gua Ignatius ? Mengapa Maria ditempatkan dalam Gua ? Kok tidak ada Rumah Maria, Gupon Maria, Cakruk Maria, atau malah Warung Maria ? Mungkin, sekali lagi ini mungkin, Maria adalah sosok Ibu yang mengayomi, laksana Gua Garba (Rahim). Dari Rahim, muncullah kehidupan. Itu yang kubayangkan dari hubungan Gua dan Maria. Tentang Rahim sebagai tempat kehidupan, Derrida membahasnya juga, sebagai suatu interpertasi atas teks Plato. Derrida membahas kata KHORA yang menyangkut tempat, ruang, penempatan, yang juga dapat dilihat seperti rahim. Tetapi, bukan tentang interpretasi Derrida yang mengusikku, tetapi tentang gua maria itu sendiri.





Biasanya, aku tidak begitu tertarik dengan Gua Maria, karena di tempat asalku, Ambarawa, ada Gua Maria Kerep yang menurutku paling baik.Lain ceritanya saat aku pergi ke Gua maria Lawangsih di daerah Pegunungan Menoreh. GM ini ada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. GM Lawangsing masuk Paroki Nanggulan DIY. Gua ini benar-benar Gua dalam arti berupa lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam. Biasanya GM lebih seperti ceruk maria, tidak ada kesan guanya. GM Lawangsih mendekonstruksi gambaran gua dalam Gua-gua Maria yang sebelumnya dibuat dengan pertimbangan agar patung maria bisa ditempatkan. Gua-gua Maria lain, biasanya tidak menggambarkan kesan gua yang berupa lubang di tanah yang cukup besar dan dalam, artinya ada lorong yang cukup dalam sehingga orang bisa masuk sampai merasakan perbedaan situasi ruang di dalam gua dan di luar gua. Di Gua Maria yang lain, tak ada situasi yang berbeda saat ada di dalam dan di luar gua karena tidak ada yang dapat disebut luar dan dalam, semua kelihatan dari luar, bahkan di GM Kerep yang kuanggap paling bagus itu.



Kelebihan struktur semacam itu sekaligus memberikan efek yang sangat dasyat. Saat masuk ke dalam lorong GM Lawangsih,yang kutemui adalah hawa lembab dan bau tanah serta sedikit tetesan air dari langit-langit gua. Inilah gua. Saat mencoba masuk lebih dalam, hanya keheningan yang muncul. Suara di dalam adalah keheningan. Tak ada suara selain diam. Suara sedikit "mbengung" mendominasi telinga. Dalam suasana seperti itu, manusia diajak bertemu dengan dirinya sendiri. Di depan tempat Doa, ditempatkan patung Yesus. So, bagiku ini bukan Gua Maria, Gua Yesus. Patung Maria ditempatkan di depan, di ceruk yang tampak dari luar, sedangkan patung Yesuslah yang ditempatkan di dalam Gua ini. Tapi, kata Bondan Prakoso, Ya sudahlah.....



Selesai ? belum. Keindahan GM ini bukan hanya struktur gua yang benar-benar gua tetapi sekaligus situasi doa yang muncul dari dirinya. Bila doa adalah tujuan dan hasil yang diinginkan orang saat pergi ke Gua Maria, GM Lawangsihpun dapat dikatakan sebagai conditio sine qua non dari doa si peziarah. Doa yang seperti apa yang diharapkan oleh peziarah ? Doa di taman yang indah buatan manusia yang merubah alam ? Kukira bukan. Doa yang muncul dari si peziarah di Gua ini adalah doa syukur atas perjalanan yang cukup menantang menuju tempat GM Lawangsih. GM ini memang cukup menantang untuk dicapai baik dengan mobil maupun dengan sepeda motor, apalagi dengan berjalan kaki karena memang letaknya di bukit. Selain syukur, si peziarah akan diantar masuk bertemu dengan dirinya sendiri saat berdoa dan diarahkann pada Yesus yang ia kenal, entah sebagai teman, sahabat, Allah, guru maupun sebagai Sang Putra. Mungkin Antonius abas di abad awal kekristenan juga merasakan dorongan untuk menyepi, jauh dari keramaian karena menemukan tempat seperti ini, hanya saja dia di padang gurun dan di sini gua yang sejuk dan segar. Kesamaan keduanya adalah menjadi tempat yang membantu orang, dengan keheninganya, untuk menemukan Tuhan.



Keistimewaan gua ini, keindahan alam, suasana segar, keheningan, hasrat ingin lama berdoa, sekaligus menunjukkan kelemahannya. Ia mengambil manusia dari kemanusiaannya yaitu hidup di dunia. Terlalu lama berdoa dan hidup di tempat yang sepi memang menggiurkan, dan memang banyak orang melakukannya dengan banyak spiritualitas. Akantetapi, manusia yang hanya ingin datang sebentar dan lupa akan hidup yang sudah dijalani di dunia, tidak mau kembali, adalah manusia pengecut yang lupa akan tujuan kedatangannya. Ada waktu untuk berdoa, menyepi, tetapi hidup perlu terus berjalan dan kembali dihadapi dengan kepala tegak, apapun yang ada di depan. Hasrat untuk tinggal lama di tempat ini, juga bisa dianggap kelemahan dari gua ini dalam arti membuat orang melupakan segala hal yang harus tetapi dijalani. Sebagai tempat refreshing secara rohani tempat ini sangat menjanjikan. Menjadi bermasalah saat menjadi tempat pelarian tanpa pemecahan.


Gua maria Lawangsih bisa menjadi benar-benar gua yang menawarkan diri sebagai pintu berkat sekaligus sebagai kutuk, ini pilihan, berani mencoba ?

7 komentar:

Stella Vania said...

jadi, kapan kita ke sini Ter ? :P

Lexx said...

Ter, ketoke menarik ki, bisa dicoba...
yen meh rono lewat ngendi dalane???

mahatma chryshna said...

@stella vania : ayo, berani ?
@ alex : alamate iso dilihat di foto2 FBku, ana petunjuk arahnya.

happy said...

Menarik. Berdoa (menghadap Sang Khalik) dengan kepala menunduk hati khusyuk; Hidup (menghadapi dunia) dengan kepala tegak hati tegar.

mahatma chryshna said...

@happy : punapa sampung nate tindak mrika ?

Anonymous said...

Hai,frater,lama aku nggak comment.Aku pernah ke Gua Maria Sriningsih di klaten.Bagus juga,di daerah pegunungan,ya,tapi agak panas sih.

johan ZeroSeven said...

boleh juga goanya....

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.