September 17, 2010

Berbuat baik : Menyuap Tuhan ? atau Ra ana Eleke?


Bila demikian, untuk apakah kita berbuat baik ? Demikian pertanyaan teman di sebelahku saat kuliah.
Selama ini, dia sering berpikir bahwa perbuatan baik yang dia perbuat, semata dilakukan agar mendapatkan sesuatu semacam pahala dari Allah. Saat memberi bantuan pada orang lain, dia berpikir bahwa bantuannya adalah suatu pijakan untuk membangun surga bagi dirinya. Semakin banyak bantuan yang diberikan, semakin banyak juga pahala yang didapatkan.



Ketika kuliah kemarin, dia cukup bergulat saat ada tema bahwa Tuhan tidak dapat disuap. Hal ini mungkin suatu pembenaran untuk menyelamatkan konsep Tuhan. Ketika Tuhan suka dan dapat disuap dengan perbuatan baik manusia, banyak ketidakadilan yang muncul. Orang kaya dengan banyak harta tentu lebih banyak suap yang bisa diberikan pada Tuhan lewat sumbangan atau karya amalnya. Itu baru satu bagian saja. Bila Tuhan bisa disuap dan diatur manusia, apakah masih bisa disebut Tuhan ?

Motif yang paling laris bagi tindakan baik adalah imbalan di masa datang, di dunia setelah kematian. Banyak orang mengira bahwa motif semacam ini adalah motif agama karena melibatkan kepercayaan akan surga, neraka, hidup setelah kematian dan Tuhan. Benarkah ? semudah itulah ? Bila demikian, sangat mudahlah para atheis teoritis macam Marx akan kembali mengkritik agama. Agama mudah menjadi pelanggeng ketidakadilan sosial.

Ada motif lain yaitu karena Tuhan menyuruh, atau karena diperintah Allah. Pertanyaanku, bagaimana caranya tahu bahwa Tuhan yang menyuruh ? Siapa bisa memastikan mana perintah dari Tuhan sendiri, mana perintah dari yang bukan Tuhan ? Bila sama-sama mengatakan mendapatkan perintah Tuhan, mengapa ada perang agama ? Bukankah manusia juga tak luput dari kepentingan, dan kepentingan itu sendiri yang sering mempengaruhi tafsir. Siapa bisa menafsir dengan tepat apa kehendak Tuhan ? Masalahnya, adakah suatu motif yang lebih universal bagi manusia untuk berbuat baik terhadap sesamanya ?

Aku ingat lagu yang dinyanyikan oleh Chrisye feat. Ahmad Dhani “jika surga dan neraka tak pernah ada”. Jaminan surga bagi suatu perbuatan baik mungkin dapat dikatakan sebagai iming-iming bagi umat beragama untuk melakukan kebaikan. Dengan jaminan dan iming-iming tersebut, nilai moral atau norma suatu agama memiliki daya dorong sehingga dapat dilaksanakan. Chrisye menekankan bahwa penyembahan kepada Allah layak dilakukan semata karena memang Allah layak disembah. Masihkah banyak orang menyembah Allah bila tidak ada Surga dan Neraka ? demikian pertanyaan Chisye.

Senada dengan pergumulan Chrisye, bagaimana bila dilekatkan pada suatu tindakan atau perbuatan baik ? Masihkah banyak orang akan berbuat baik bila keselamatan itu adalah suatu Rahmat yang pemberiannya tidak tergantung manusia tetapi tergantung Allah. Suka-suka Allah, demikian orang muda mengatakan. Suka-suka Allah, akan memberikan rahmat keselamatan kepada manusia. Itu adalah Hak Prerogatif Allah sebagai Allah.

Saat sampai di sini, pertanyaan temanku di atas menjadi sangat relevan. Bila tidak ada surga dan neraka serta imbalan di masa mendatang, untuk apa kita berbuat baik ? Ini pertanyaan yang juga telah digumuli oleh banyak pemikir humanis.

Saya ingat dengan kebijaksanaan Jawa. Sebagai orang Jawa yang hidup dalam kebudayaan Jawa, di saat kecil, saya dididik oleh simbok dengan sangat Jawa. Banyak tata hidup yang dianggap Njawani yang diajarkan dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Saat aku bertanya, mengapa saya harus berbuat baik simbokku hanya mengatakan, “Ora ana eleke, wis dilakoni bae!” ( Tidak ada jeleknya, sudah dijalankan saja). Mungkin simbokku juga tidak tahu bagaimana harus menjawab, tetapi jawaban itu, cukup menenangkan aku yang masih kecil bahwa melakukan suatu kebaikan itu tidak ada jeleknya.

Jawaban simbok ini bukan jawaban terbaik, tapi cukup ampuh menghilangkan motif imbalan dalam suatu perbuatan baik. Dari kacamataku sekarang, jawaban simbok ini Kantian. Di sisi lain, jawaban ini cukup universal karena juga menyangkut manusia secara umum yang ingin mencoba untuk hidup bersama tanpa “merasa” mendapat perintah dari Tuhan.

9 komentar:

Gege Saga said...

Asalkan dari niat dan hati udah pengen berbuat baik karena iba atau memang bawaan ya itu lakoni aja. Gitu kah, ter?

happy said...

Saya jg terusik dg persoalan yg sama selama bertahun-tahun. Akhirnya minggu lalu saya baca di koran & Internet ttg buku baru Stephen Hawking (fisikawan terkemuka) berjudul 'The Grand Design', release 7 Sept 10. Intinya dia mengabaikan unsur Tuhan dlm penciptaan alam semesta. "God is unnecessary in the creation of the universe". Kayaknya begitu. Proses penciptaan semesta (the grand design) adalah murni proses fisika. Teori barunya ini juga mementahkan teori Isaac Newton dan jg teori dia sendiri sebelumnya dlm buku "A Brief History of Time" ttg lubang hitam.
So, where is God? Who / What is God?
Bagi saya, Tuhan sulit dimengerti sbg 'pribadi' layaknya manusia. Tuhan jauh lebih besar dari itu. Dialah roh yg menjiwai gerak semesta termasuk penciptaannya.
Dus, berbuat baik = berbuat seturut gerak semesta (keseimbangan alam). Segala perbuatan akan diseimbangkan oleh alam. Segalanya akan menjadi baik adanya.

mahatma chryshna said...

joss tenan guruku ini,
saya kirimkan juga sedikit bocoran email yang sempat terjadi di antara SJ tentang buku tersebut, ini email dari fr Efendi, yang masih di STF Jakarta, sesudahnya saya kirim di bawah ini :



Saya sendiri belum membaca buku baru Hawking tersebut (semoga dalam waktu dekat saya sudah bisa membacanya dan memikirkan argumennya). Tapi saya mau mencoba memberi komentar



Menurut saya, pernyataan tersebut bisa dijawab dengan sebuah kesimpulan setelah mengajukan beberapa proposisi



[1]

Segala sesuatu yang mempunyai awal itu kontingen (contingent)

Alam semesta mempunyai awal è mengikuti teori Big-Bang

Jadi alam semesta itu kontingen



[2]

Segala sesuatu yang kontingen harus mempunyai sebab è mengikuti Aquinas/Aristoteles

Alam semesta itu kontingen

Jadi alam semesta itu harus mempunyai sebab



Sampai di sini kita masih bisa sejalan dengan Hawking.



Tapi kalau benar Hawking menyatakan bahwa “alam semesta menciptakan dirinya dari ketiadaan” atau dengan kata lain “alam semesta merupakan sebab bagi dirinya sendiri dari ketiadaan total” maka kita bisa menanggapinya dengan:

“Kalau alam semesta menciptakan dirinya sendiri maka alam semesta harus sudah bereksistensi sebelum dirinya bereksistensi. Jelas bagi saya bahwa pernyataan itu tidak koheren. Apakah mungkin sesuatu yang belum ada menciptakan dirinya sendiri? Atau, “Apakah logis menyatakan bahwa si A ada sebelum A ada sehingga A dapat membuat dirinya menjadi A? Apakah A yang belum ada itu dapat membuat ketiadaan menjadi A? Kalau A belum ada dan yang lain juga belum ada, apakah mungkin ketiadaan membuat dirinya menjadi ada? Bukankah lebih logis kalau mengatakan bahwa A yang hadir bersama ruang-waktu itu dan bersifat kontigen, disebabkan oleh B yang melampaui ruang-waktu? Kita bisa mengatakan bahwa B itu sesuatu yang transenden, melampaui ruang-waktu, karena kita selalu berpikir dalam konteks ruang-waktu (è mengikuti Kant). ”



Mungkin ada tanggapan lainnya?



Salam



Effendi

mahatma chryshna said...

@ happy : kalau sudah punya bukunya, pinjam dong pak !! ni ada link review dari sudut katolik :

http://www.catholicnewsagency.com/news/hawkings-new-book-does-not-dismiss-the-real-god-from-creation-jesuit-scholars-say/

Anonymous said...

ter,mungkin cukup dengan "keikhlasan" akan menentramkan segalanya.Kalkulasi Tuhan toh beda dengan dengan kalkulasi manusia.Seperti kisah"si janda miskin" dalam alkitab yang memberi dari kekurangannya.

happy said...

Sepakat!
Br. Consolmagno dg tepat menggambarkan pemikiran saya, yaitu bahwa Tuhan yg tidak dipercayai oleh Hawking jg bukan Tuhan yg saya imani. Tuhan bukanlah salah satu kekuatan layaknya gravitasi atau listrik, tapi jauh melampaui hukum-hukum alam itu. Tuhan adalah si B yg disebut oleh fr Effendi. So, intinya bukanlah 'Tuhan tidak ada / tak berperan', tetapi 'Pelurusan konsep / pemahaman ttg siapa Tuhan itu'. So, menyuap Tuhan mgkn sama dg memanjakan imajinasi kita ttg Tuhan, di mana Tuhan dipahami scr keliru. Di sini tampak bhw 'berbuat baik' dg semangat 'suap-menyuap' semakin memperlihatkan keserakahan manusia akan keuntungan pribadi, pahala personal, egois, dan cari selamat sendiri. Mungkin.

mahatma chryshna said...

@happy : kesulitan untuk berbicara tentang TUhan, membawa pada Tuhan sebagai pengalaman yang personal.
Selamat pagi.

Anonymous said...

frater,kalau boleh saya tambahkan,Tuhan sebagai sosok pribadi memang tak bisa disuap,karena akal budi manusia memang terlalu kecil untuk memahami kehendakNya.Kita manusia seringkali harus bergulat panjang dengan sangat keras sampai hampir sepanjang hayat,hanya untuk memahami kehendakNya yang paling sederhana.Misal,kenapa di dunia ini saya terlahir sebagai si A dan bukan si B,kenapa dilahirkan sekarang dan bukan seratus tahun lalu ,misalnya.Dan berbuat baik atas nama apapun itu memerlukan tempat,yakni kepercayaan akan sosok Tuhan itu sendiri,dimana masing-masing konsep iman memiliki definisi sendiri.Dan soal surga neraka itu rasanya perlu juga dihadirkan,mengingat sebagian besar umat manusia ini terlahir "awam" bisa dihitung jarilah yang punya kelebihan spiritual tinggi layaknya nabi,santo-santa atau wali,orang suci ,sufi atau apapun yang sejenis.Sepertinya sebagian besar manusia itu berpikiran fisik,frater?

Mahatma Chryshna said...

iya, memang mekaten kangmas/mbakyu

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.