March 25, 2008

perang absurd (hart's war)



pernah denger tentang perang yang adil ?
atau konvensi jenewa yang mengatur perang yang lebih manusiawi ?
kelihatannya absurd berucap tentang perang yang adil, yang lebih manusiawi.


film ini menyuguhkan sesuatu yang sulit dipahami oleh orang indonesia,
atau mungkin oleh kebanyakan orang timur ( hahaha....vocab postkolonial banget )

bagaimana mungkin seorang kolonel tawanan perang dapat berdiri tegak
dan berbicara dengan dignity yang setara dengan kolonel tentara yang menjaganya.
bagaimana mungkin hal itu terjadi di tahun 1945 !
bagaimana perlakuan tentara di Indonesia terhadap tawanan,
perlakuan jepang terhadap tawanan perang,
perlakukan NICA (yang post1945) terhadap tentara tawanan ?

film tersebut berhasil menarik perhatianku pada perang !
hal yang selama ini hanya asyik sejauh ada dalam film,
lalu, apa yang dipikirkan oleh tentara perang dunia 2 itu ?

perang dilihat sebagai suatu kewajiban,
tak ada yang lain.
kewajiban yang di dalamnya terdapat suatu aturan main
yang harus diikuti.
layaknya main sepakbola, tetapi lebih lama dan cakupan wilayah
bukan hanya lapangan sepakbola tetapi suatu negara, atau benua.
pemain sepakbola profesional akan memperlakukan permainan
sebagai permainan.
mereka tidak memperlakukan permainan dengan main-main.
permainan bukan sesuatu yang main-main belaka, tetapi serius.
hahaha.....memang, ini sudah direfleksikan oleh Driyarkara.

bila perang dilihat sebagai game,
sebenarnya tak ada lho kebencian pribadi.
perang adalah permainan.
di satu sisi, ini adalah humanisasi, menjinakkan kekacauan perang,
tetapi apakah dengan ini, juga terjadi suatu pembelaan terhadap perang ?
bukankah perang itu eksesnya juga kena pada rakyat biasa yang tak bersalah ?
adakah perang yang benar2 hanya melibatkan tentara ?
adakah perang yang steril dari ekses kepada rakyat, kepada bumi ?

perang khan dehumanisasi, kata beberapa orang !
dan ketika dianggap sebagai game, hahaha...ini tambah absurd.
kira-kira permikiran tersebut muncul dari mana ya ?

bila menilik sebentar ke sejarah barat
khan ada pembedaan golongan masyarakat !

ada bangsawan (tukang perang, strategi, pemilik tanah)
ada ksatria/knight (tukang perang langsung)
ada rohaniwan ( tukang sembayang)
ada pedagang ( cikal bakal kapitalis eh bukan hihi...interpreuner)

kata temanku yang mendalami perang,
pikiran tentang perang sebagai game, sebagai kewajiban,
itu berhubungan dengan penggolongan masyarakat macam itu.
nah, sebagai ksatria, perang itu ada kehormatannya,
ada tradisi aturan yang dihayati.
so, cukup masuk akal ketika dalam film tersebut,
nampak ada kesejajaran antara tentara tawanan dan tentara penjaga.
nampak sekali permainan yang dihayati,
menghayati perang, hahaha.....
itu baru sedikit kupahami,
tapi untuk menyetujui, ambil posisi, belum ah....
perang bagiku masih suatu dehumanisasi....

1 komentar:

surya said...

Ma, boleh komentar?
kesetaraan di antara para petarung itu namanya "chivalry" yang masih dihayati, minimal hingga PDII.
"Itu berisi pengakuan atas kualitas yang dimiliki lawan, dan sekaligus ingin ia miliki sendiri; respek atas lawan yang gagah berani (brave), memiliki kemampuan, dan memiliki belas kasihan ; Dan suatu keinginan untuk memperlakukannya, ketika ia kalah, sebagaimana ia mengingini untuk diperlakukan ketika ia sendiri dikalahkan. This used to be called chivalry: many will now call it nonsense and say that the days when such sentiments could survive a war are past. If they are, then I, for one, am sorry".
Demikian tulisan seorang jenderal Inggris ketika mengenang lawan yang sangat ia hormati, seorang jenderal Jerman.
absurd, memang, namun humanisasi perang adalah satu-satunya jalan untuk membatasi sepak terjang perang yang sangat mematikan.

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.