July 15, 2008

MOS (Masa Orientasi Siswa)

f
hari kedua MOS di SMK Mikael,
udara pengap, ruangan yang tak dibuka,
dibuat kurang cahaya dan udara.
siswa baru duduk berjejer rapi dengan atribut khas,
dipandangi oleh kakak kelas yang tak pernah salah,
yang siap membentak atas setiap kesalahan kecil.
itulah tipikal MOS di Indonesia.

hanya kemarahan, bentakan, hukuman mental.
apa yang mau dicari dengan kegiatan semacam ini.
suatu proyek balas dendam kakak kelas-lah yang mungkin terjadi.
penegakan disiplin dan peraturan sekolah menjadi dalih bagi
setiap tindak represi dalam bentuk mental maupun fisik.

dari judul kegiatannya, jelas bahwa MOS adalah waktu yang diberikan sekolah agar siswa baru mengenal sekolah, peraturan dan tradisi. Hal itu digarisbawahi dengan kata orientasi. Ada arah, atau tujuan yang diperkenalkan kepada siswa baru dari sekolah. Siswa baru diajak untuk makin giat dalam menjalani hidup di sekolah yang dimasuki. minimal ada konfirmasi bahwa pilihannya masuk sekolah ini sudah tepat. Bisa juga diberi muatan rasa bangga terhadap sekolah yang dimasuki. Lalu kalau sudah tau tujuan serta punya kebanggaan trus apa ?

Pertanyaan itulah yang harus diajukan pada kakak pendamping MOS. MOS bukan segalanya, MOS adalah salah satu, suatu dasar, awal mula bagi kegiatan selanjutnya.

Yang terjadi adalah kesenangan menghukum siswa baru tanpa mempedulikan muatan dari MOS. Oleh karena itu, tujuan MOS seringkali tidak tercapai karena hanya menjadi ajang balas dendam dan menjadi ajang penanaman tradisi. Beberapa guru senior menyatakan bahwa kesulitan yang akan ditanggung anak baru akan dikenang selalu oleh orangtua mereka. Persyaratan MOS yang sulit dicari menjadi sarana bagi orangtua untuk menunjukkan perhatian mereka. Hal itu bisa saja membentuk relasi anak dan orangtua di rumah yang lebih baik, tetapi bukan hal itu yang dituju dalam MOS. Ini hanya suatu akibat sampingan yang belum terukur.

MOS dan kegiatan semacam ini dalam bentuk yang lebih tertata macam LKTD, memiliki beberapa kesamaan. kebetulan kesamaan yang ada lebih dalam hal kritik. Aku mengalami dan mengamati bahwa cara pengkaderan dengan singkat macam ini hanya memberikan kesan luar, suatu sentuhan fisik tanpa bekas pada niat, motivasi serta tindakan. Kehendak kuat tidak muncul dari dan lewat latihan macam itu. Latihan dengan gaya militer, dengan tekanan mental yang kuat memang membentuk sesuatu, tetapi ingat bahwa manusia itu juga memiliki kebebasan eksistensial. Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa MOS dengan kekerasan dan represi tidak menyentuh sisi terdalam siswa baru.

to be continued.......
gambar: MOS SMK MIkael Surakarta, 15 Juli 2008, koleksi mahatma.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.