June 29, 2009

Solo Batik Carnival 2, 28 Juni 2009


Solo Batik Carnival (SBC) memang heboh, dari jumlah penonton, jumlah penampil (lebih banyak dari tahun lalu), dan jumlah fotografer. Lebih heboh lagi dari jumlah waktu yang terbuang untuk menunggu hehehe….Memang, Carnaval yang sedianya mulai jam 14.00 ini molor hingga pukul 17.00. Lelahnya menunggu selama 3 jam seakan tergantikan dengan suguhan yang sungguh menawan dari para penampil. Ternyata para penampil di SBC 2 kali ini mendisain, membuat dan menampilkan hasil karya mereka sendiri. Kebayang kerja keras yang dilakoni mulai dari membuat desaiinya, merealisasikan dalam bentuk pakaian. Belum lagi saat mereka semua latihan berjalan, latihan menari di hotel, di pasar, di jalan. Katanya, butuh 5 bulan untuk menyiapkan gelaran ini. Gak heran, acara kali ini sungguh menggugah minat warga Solo. Saat aku meluangkan waktu menonton acara ini, aku sendiri dibuat bosan di awal karena harus menunggu sangat lama, lebih lebih, aku lagi batuk pilek, untung aja dapet kursi di tenda, lumayan gak terlalu panas.



Arak-arakan SBC 2 diawali dengan walikota dan wakil walikota yang berpakaian tradisional Jawa baru diikuti para penampil karnaval. Tema SBC 2 kali ini adalah Topeng, tapi aku sendiri gak menemukan penampil yang memakai topeng. Topeng hanya dijadikan hiasan dalam pakaian mereka. Sebenernya asyik juga lho kalo mereka semua pakai topeng, hanya tentu saja wajah mereka jadi gak kelihatan. Mungkin aja para penampil gak rela wajahnya gak kefoto hehehe…

Bicara tentang carnival, iseng-iseng cari asal usulnya di Kamus. Ternyata carnival atau carnifal itu berasal dari bahasa Latin caro=daging + valedicere =selamat tinggal. Jadi, carnaval kurang lebih berarti selamat tinggi daging. Memang, dulunya karnaval atau perayaan arak-arakan semacam ini digunakan dalam tradisi Kristen sebelum masa puasa sehingga menyatakan selamat tinggal pada daging. Dari asal kata ini, muncul suatu tradisi atau roh dari perayaan. Nah, di SBC 2 ini, roh apa ya yang dibawa dan dirayakan ? Mungkin masyarakat Solo senang dengan keramaian dan pertunjukan, tetapi untuk merayakan apa ? Bukankah perayaan, dalam masyarakat Jawa, erat kaitannya dengan perayaan kehidupan dan keeratan hubungan dengan Alam ? Dalam SBC ini, hidup macam apa yang dirayakan ? siapa yang bisa menjawab ? tentunya yang menghela kuda di depan yang dapat menjawab...



Sebagai kawula alit di Solo, minimal aku merasa disemarakkan, merasa bangga bahwa kota ini bisa menarik banyak orang, wisatawan, mungkin juga investor. Hasrat panitia untuk menduniakan batik juga sudah mulai terwujud. SBC 2 memberikan harapan nyata dibandingkan kampanye presiden yang sama-sama memberikan harapan bagi warga Solo. Bila dikatakan bahwa manusia semakin hidup bila memiliki harapan dalam hidup, SBC, memberikan identitas baru dan harapan bagi warga Solo untuk semakin bangga menjadi wong Solo.
Profisiat atas kerja keras panitia SBC 2.

6 komentar:

nothing said...

tanpa karnaval, batik selalu tetap menarik

indrawardanamenggonggong said...

batik pancen jos, nek regane murah

mahatma chryshna said...

@ nothing : karena sudah menarik itu, difestivalkan, mesti banyak yang nonton hehehe...

@ indrawardana : pancen murah kok, seandainya ikut menonton....hahahahaha

VH. Gadjahmada said...

Mohon ijin untuk mengutip laporan yang anda tuliskan, dan saya upload di website alumni SMA Negeri 1 Solo. www.sman1solo.net
Matur nuwun

VH. Gadjahmada said...

Mas Mahatma,
Mohon ijin untuk memuat artikel yang anda tuliskan pada website alumni SMA Negeri 1 Solo.
www.sman1solo.net

Matur nuwun.

mahatma chryshna said...

lha nggih monggo,
selamat membaca !!

Post a Comment

Silahkan berkomentar bila ada reaksi setelah membaca tulisan di atas.
Terimakasih.

Powered by Blogger.