November 06, 2017

"Semangat Kakak!"

Jujur saja, di antara kita pasti ada yang sering menggunakan ungkapan di atas saat ingin menyapa dan membangkitkan semangat rekan kita dalam menjalankan tugasnya.

Saat kita ingin memberikan dukungan kepada rekan kita yang sedang berusaha untuk menyelesaikan suatu tugas, atau sekadar menyapa pacar di saat sedang bekerja, sering kita menggunakan ungkapan di atas.

Namun, saat iseng-iseng mencari makna dari ungkapan tersebut di KBBI, saya dibuat heran. Kata “semangat” merupakan kata benda (nomina), yang berarti: 1) roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati, 2) seluruh kehidupan batin manusia, 3) isi dan maksud yang tersirat dalam suatu kalimat, 4) kekuatan (kegembiraan, gairah) batin, 5) perasaan hati: terpengaruh oleh, 6) nafsu (kemauan, gairah) untuk bekerja, berjuang dan sebagainya.

Nah, dari keenam arti di atas, ungkapan “semangat ya!” masuk ke makna yang mana?

Kita sebenarnya mengandaikan saat diberi semangat dengan sapaan kata “semangat ya!”. Artinya, kita paham bahwa orang yang menyapa itu sedang mencoba untuk mengajak kita tetap bersemangat dalam kegiatan yang sedang kita upayakan. Kita diminta untuk tetap bersemangat.

Bila kita coba untuk melihat dari sinonim kata “semangat”, akan muncul kata seperti: (hawa) nafsu, antusiasme, api, arti, atmosfer, batin, dorongan, energi, gairah, gelora, intensi, intensitas, jiwa, karakter, kehidupan, keinginan, maksud, motivasi, nada, psike, roh, sifat, spirit, suasana (hati), substansi, sukma, temperamen, vitalitas, watak, dan lain-lain.

Kembali, pertanyaan yang sama: bila ungkapan “semangat ya!” dilihat dari sinomin kata “semangat”, manakah makna yang paling dekat yang bisa digunakan untuk menggantinya? Bisakah digunakan ungkapan, misalnya: “gairah ya!”, “nafsu ya!”, “spirit ya!”, “ayo gairah”, “ayo api!”.

Dengan melihat dua percobaan di atas (makna di KBBI dan sinonim kata), saya semakin yakin bahwa penggunaan sapaan “semangat ya” merupakan suatu ungkapan yang menarik untuk dibahas.

Pertama, bisa dipahami bahwa sapaan “semangat ya!” merupakan suatu upaya memberikan semangat kepada pihak yang disapa. Bila dipanjangkan, ungkapan tersebut mungkin sekali berarti: Aku berharap bahwa kamu tetap bersemangat dalam menjalankan aktivitasmu. Atau, Aku harap kamu tetap menjalankan aktivitas dengan penuh semangat. Demikian kira-kira maksud dari sapaan, “Semangat ya!”. Dan kita semua maklum adanya, entah pemberi semangat maupun yang diberi semangat. 

Akan tetapi, kok mudah sekali menggunakan kata “semangat” untuk menyemangati? Bila memang demikian, bisakah digunakan kata benda (nomina) yang senada untuk mengungkapkan sapaan di lain situasi? Misalkan, terhadap orang yang sedang bersedih, kita gunakan “kegembiran ya!”. Atau untuk kegiatan lain yang senada, misalkan untuk memotivasi seseorang, kita gunakan kata “motivasi ya !” , “ayo motivasi!”

Kedua, bisa juga, dan inilah dugaan saya, inilah suatu pembentukan ujaran performatif baru khas generasi milenial di Indonesia. Suatu “ujaran” yang dalam waktu bersamaan juga merupakan suatu “pekerjaan” yang mengungkapkan suatu tindakan tertentu. Misalkan, kita minta maaf pada seseorang, kita menggunakan kata “Maaf ya!”. Suatu “tindakan” meminta maaf, dilakukan dengan mengucapkan kata “maaf”. Contoh lain adalah sapaan “Selamat Pagi!”. Kita melakukan “tindakan” menyapa dengan mengucapkan kata “Selamat Pagi!”.

Prinsip sederhananya, ujaran performatif itu dapat dilihat saat suatu kata sekaligus merupakan suatu tindakan (when words are actions). Saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Bisa dilihat saat kita: memesan, berjanji, meminta maaf, mengingatkan, menikahi, dan lain-lain. Demikian logika sederhana tentang apa itu ujaran performatif. [Yang ingin memperdalaman, bisa mulai dengan tayangan ini: https://www.youtube.com/watch?v=jEvwd0vxF6w atau https://www.youtube.com/watch?v=LgmpbXIGpcc;]

Nah, kembali ke ucapakan “semangat ya!”, bisa jadi merupakan suatu ujaran performatif, suatu bentuk ungkapan yang dipahami sebagai suatu tindakan performatif. Bisa jadi, inilah genialitas sapaan khas milenial Indonesia yang dipahami bersama sebagai bentuk memberikan semangat. Saya katakan khas milenial Indonesia karena di era 90’an, ungkapan “semangat ya” belum terdengar, jarang terdengar, atau belum diungkapkan.

Pada zaman dahulu, bila orangtua, misalnya, ingin memberikan semangat kepada anak-anaknya dalam belajar, dia bisa jadi akan mengatakan: “Nak, rajinlah belajar agar bisa masuk sekolah yang kamu cita-citakan. Di sini, pemberian semangat dilakukan secara khusus, sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan.

Atau seorang pelatih bulutangkis saat menunggui anak didiknya bertanding akan mengatakan “Ayo,kamu bisa!”, “kerahkan seluruh upayamu!”.

Dari mana datangnya ujaran dan pemahaman “semangat ya!”. Dugaan saya, kekuatan kata-kata ini muncul dari komunikasi via teks. Berkurangnya komunikasi tatap muka langsung, walau sudah disiasati dengan adanya emoticon maupun video call, membentuk mode komunikasi yang singkat. Siasat untuk menyemangati orang, tak lagi harus dengan banyak nasihat dan spesifik, tetapi sederhana, umum, dan mudah dipahami bersama.

Saya cenderung untuk tidak menyebutnya sebagai suatu salah kaprah dalam pemakaian bahasa, tetapi lebih pada suatu penemuan genial generasi milenial (yang pas untuk kids zaman now).  

Selain siasat karena keterbatasan teks, ungkapan “semangat ya!” sangat mungkin muncul dari alih bahasa ungkapan bahasa Jepang “ganbatte” maupun dari bahasa China “Jia You” (Caiyo). Masuknya budaya Jepang melalui komik, film kartun, sinetron jepang (dorama), maupun lagu-lagu, membawa serta dialog-dialog khas yang ditangkap oleh generasi milinial. Ungkapan “ganbatte” yang merupakan kependekan dari “gambatte kudasi” dengan arti “berusalah yang terbaik/lakukan sebaik mungkin”, digunakan ke dalam percakapan sehari-hari dengan ungkapan “semangat!”. 

Dari alih bahasa yang diakrabi oleh generasi milinial ini, muncul siasat berbahasa yang baru, menyemangati dengan menggunakan kata “semangat”. Ungkapan ini akhirnya diterima dan digunakan oleh pengguna bahasa Indonesia. Hasilnya, hampir semua orang sepakat dan memahami maksud saat seseorang mengungkapkan “Ayo semangat!” kepada orang lain, berarti dia sedang mengatakan “ayo bersemangatlah dalam menjalankan kegiatanmu!”.

Semangat kakak!

May 07, 2015

Yang Pasti…..?



Coba  sebentar kita cermati komentar selebriti indonesia saat diwawancarai dalam program infotainmen. Salah satu jurus favorit mereka dalam menjawab pertanyaan, adalah menggunakan frase “Yang Pasti……..bla..bla..bla.

  • Reporter: “Mbak Artis, bagaimana persiapan mbak menjelang konser nanti malam?”
  • Artis: “Yang pasti, aku latihan tiap hari dan bla..bla..bla”.
Dari sisi lain, ternyata jurus sakti itu juga telah melekat di benak penonton. Saat seorang penonton yang hadir dalam sebuah event keramaian (entah itu konser musik, atau acara jalan-jalan, atau  event keramainan apa pun) diwawancarai, munculah frase sakti tadi:
  • Reporter: “Mbak, namanya siapa?”
  • Penonton: “Rere.”
  • Reporter: “Bagaimana pensi yang mbak Rere hadiri kali ini?”
  • Penonton: “Yang pasti…seru abis, banyak artis-artis yang keren banget!!!!”
Entah mengapa, saya menangkap bahwa jawaban sakti “Yang pasti..bla..bla..bla” adalah jawaban yang bukan jawaban. Jawaban yang sudah diketahui oleh banyak orang. Atau dalam bahasa juru warta disebut informasi yang tidak layak menjadi berita.

Ya tidak layak untuk masuk kategori berita, wong yang diungkapkan adalah sesuatu yang pasti-pasti. Yang pasti-pasti itu semua orang juga sudah tahu. Jawaban dengan menggunakan jurus “yang pasti” jelas bukanlah jawaban yang ditunggu oleh penonton atau pun oleh mereka yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut.

Jawaban dengan jurus “yang pasti” dapat disejajarkan dengan pertanyaan retoris macam, “ah hari ini matahari terbit dari timur”, “ah, es ini dingin sekali”.   Ya itu sudah pasti, dan yang sudah pasti pasti itu, konon akan masuk struktur Present Tense, demikian ujar guru bahasa Inggris.

Lalu mengapa sering sekali muncul jawaban spontan “yang pasti”, entah dari kalangan artis, penonton, bahkan sekarang politikus atau mereka yang disodori mic pewawancara. Apakah ini sejenis virus di dunia digital ini?

Semata dengan menggunakan ingatan, saya coba mengira-ira, kapankah ungkapan “yang pasti” ini mulai muncul? 

Seingat saya, jurus sakti “yang pasti” ini muncul berbarengan dengan perkembangan teknologi yang makin memanjakan manusia dengan kecepatan. Di media televisi, muncul dengan banyaknya realtime news. Artinya, teknologi siaran langsung semakin menjadi biasa dalam tayangan berita televisi. Tuntutan kecepatan dalam pemberitaan, mengharuskan hadirnya informasi yang cepat. Berita tidak dicari, tapi diadakan dan akhirnya sang sumber berita pun akhirnya kehabisan kata-kata. Kata-kata yang tak terpikir kemudian muncul dalam frase sakti, “yang pasti”.

Kembali lagi ke ungkapan “yang pasti”. Benarkah saat seseorang mengucapkan jawaban “yang pasti”, dia mengungkapkan hal yang pasti?

Bisa jadi, jawaban “yang pasti” itu adalah sebuah penghindaran terhadap pertanyaan yang tidak siap dijawab. Atau, sebuah momen berpikir yang ditunda sehingga seseorang masih sempat untuk sedikit (hanya sedikit) memanggil sebentar ingatan dan mengungkapkan sesuai dengan situasi yang sedang dialami. Mudahnya, jawaban “yang pasti” adalah jawaban encer tanpa banyak berpikir, suatu kemalasan berpikir yang semakin masif.

Mungkin saja, jawaban tersebut adalah bentuk lain dari ungkapan “eeee…eee…” di zaman TVRI saat mic disodorkan kepada Menteri Moerdiono (mereka yang tahu, tentu sudah senior, memang ini jebakan umur). Zaman “eeee....eee....eee” sudah diganti dengan zaman “yang pasti”.

Atau malahan, jawaban “yang pasti” adalah jawaban antisipatif yang ditunggu oleh penonton. Penonton sudah tahu jawaban atau informasi tentang suatu hal. Untuk menegaskan common sense tersebut, narasumber hanya perlu mengatakan “yang pasti…bla..bla..bla.” Seorang aktris yang akan menikah, akan menceritakan persiapan yang dilakukan olehnya, layaknya setiap pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan, mulai dari menyiapkan pakaian, membuat undangan, memilih tempat, dan lain-lain.

Kemungkinan lain, jawaban “yang pasti” adalah pencitraan bahwa sebaiknya, atau umumnya seseorang akan memberikan jawaban seperti yang ia berikan. Inilah yang paling membosankan. Orang menjadi sok tahu dan memberitahu bahwa sebaiknya atau umumnya jawaban yang diberikan adalah yang dijawab dengan awalan “yang pasti”.  “Yang pasti, kegiatan tadi seru sekali”. Benarkah seru? Atau, sebaiknya dan umumnya kegiatan tadi menjadi kegiatan yang “seru”?

Jadi, sebenarnya tidak ada hal yang baru. Reporter sudah tahu, penonton sudah paham. Dan rasanya sia-sia untuk mencari tahu apa yang ingin diungkapkan maupun apa yang ingin diketahui dan ingin dicari.

Momen ingin tahu, momen penasaran hilang dan diganti dengan momen sok tahu.  Di titik ini, benarlah apa yang diungkapkan oleh Daniel Defoe di abad 18, “Dan apabila ada hal yang lebih pasti daripada kematian dan pajak, kita pantas untuk mempercayainya.” 

Karena tidak ada yang lebih pasti dari hal itu, maka? 
sumber gambar

December 24, 2014

Soto Betawi dan Gado-Gado Betawi



Menurut Bondan Winarno, dalam 100 Mak Nyus JAKARTA, Soto merupakan salah satu kuliner yang dapat dijumpai di seluruh Indonesia dengan berbagai varian. Nah, yang ingin dibahas di sini adalah soto Betawi, atau yang sering disebut Sobet oleh anak muda Jakarta.

Sebagai pendatang di kota Jakarta, Sobet adalah salah satu makanan yang cukup aneh karena kuahnya yang terasa kental dan berat. Kuah soto di daerahku (Ambarawa, 30 km dari Semarang) biasanya bening, tanpa santan atau susu. . Selain itu, isi soto yang menjadi daya tarik terdiri dari daging ayam atau sapi, tanpa jeroan, bukan full potongan jeroan yang telah digoreng sebelumnya. Sebutan “soto” bagi suatu campuran  jeroan yang dimasukkan dalam kuah santan atau susu itu tidak masuk dalam kriteria saya tentang “soto”. Soto itu kuah bening dengan banyak bawang goreng (Soto Semarang) dengan porsi mangkuk kecil agar segera nambah sebelum porsi pertama habis. TITIK.

Namun, seperti yang sudah-sudah (Mie Godog saat tinggal di Jogja, atau Nasi Liwet saat di Solo), Sobet-pun mulai menjadi makanan yang masuk lancar tanpa banyak protes. Kuah “berat” dari santan/susu, serta jeroan yang menjadi ingredient default bagi Sobet malah menjadi sensasi yang membuat kangen. Mungkin inilah yang disebut perkenalan dan selanjutnya disebut “kekerasanan” bagiku di tempat baru.  Saat aku sudah mulai merasa nyaman dengan makanan setempat, itulah saat aku dapat mengatakan kerasan di tempat tersebut.


Demikian juga di tempat kerja.  Saat awal masuk, suasana baru, teman baru, cara kerja baru, dan atribut kerja yang baru, membuatku harus beradaptasi. Mulai dari ruang kerja yang baru, meja, kursi, komputer baru, posisi duduk yang baru, teman sebelah, teman di samping, teman di depan, juga teman di belakang, mengubah cara gojeg dan berelasi. Derajat AC yang berbeda juga menambah panjang daftar adaptasi yang mau tak mau perlu dijalani. Akhirnya, setelah sekitar 4 bulan bekerja di tempat baru, aku semakin merasakan “campuran” yang ngangeni. Suasana baru tersebut telah membuatku merasa menjadi bagian dari komunitas tempat bekerja dengan satu kata kunci “ngangeni”.

Tempat kerja, tidak membuatku kangen seperti Soto Betawi, namun laksana gado-gado Betawi, yang menurut Bondan Winarno dalam bukunya 100 Mak Nyus JAKARTA disebut sebagai fusion dari gagrak gado-gado Jawa Tengah dan sla Belanda yang keluar dari dapur Tionghoa. Perbedaan teman dan latar belakangnya, membuat suasana kerja seperti gado-gado Betawi dengan variasi isi seperti bayam, kacang panjang, tauge, tahu, kentang, dan telor. Belum lagi dengan perbedaan bumbu kacang yang disiram maupun direbus, dengan kacang tanah atau kacang mede maupun campuran kunyit yang agak menyengat, serta jumlah cabai yang menentukan level pedasnya. Dimakan satu-satu enak, dimakan bersama-sama enak. Dikurangi satu bahan itu selera, tetapi tidak lengkap tanpa salah satu campuran baku di atas.

Sekarang ceritaku.
Ketika salah satu teman memutuskan untuk resign, rasanya seperti perlu mendefinisikan kembali rasa gado-gado yang sudah mulai nyaman di lidah. Ada satu sajian gado-gado yang hilang. Mungkin lama-lama gado-gado tetap nyaman masuk ke mulut, hanya saja saat ini perlu kuingat bahwa dalam gado-gado Betawi yang pernah kurasakan, pernah ada satu rasa yang memberi warna berbeda. 

Mungkin satu rasa itu berasal dari kacang mede yang memberi tekstur lembut daripada kacang tanah, mungkin rasa itu adalah bawang merah goreng (brambang goreng) yang ditaburkan di akhir. Atau mungkin saja, rasa itu adalah sensasi kriuk dari kerupuk yang dicampurkan dalam gado-gado. Entah yang mana, kepergian satu teman dari kantor tetap saja menghilangkan salah satu rasa lezat dari gado-gado Betawi di kantorku. Mungkin bukan rasa yang dominan, tetapi tanpa salah satu dari campuran tersebut, ciri khas gado-gado Betawi kantorku akan berubah.


Campuran ini sudah lezat, dan mungkin akhirnya lidahlah yang perlu menyesuaikan, tidak terpancang pada satu campuran gado-gado Betawi tertentu. Saat satu teman meninggalkan kantor, ada saat kangen, walau dalam beberapa purnama mungkin akan sirna. Sengaja kucatat agar suatu saat bisa menjadi suatu memoria yang pantas dikenang dan diceritakan. Selamat bekerja dalam suasana baru Angelia Stephanie!

June 19, 2014

Ari-ari

Tanggal 5 Mei 2014, ponakanku lair, wadon. Sabubare lairan, nalika isih ana ing Klinik, Bapakne nuli njaluk tulung kanggo golek uba rampe kanggo ngubur ari-ari.  Dudu aku sing golek uba rampe kui mau, nanging sedhulur liya maneh. Aku ora ngerti sapa sing akhire mendem ari-ari kui mau, ananging saiki ari-ari kui mau uwis dipendhem ing ngarep omah, sisih tengen omahe kakangku nganti selapan dinane.

Ari-ari, ing budaya daerahku, Ambarawa lan sak kiwa-tengene, isih diupakara kanthi permadi. Ari-ari kui mau dikubur bareng karo uba rampe liyane kayata kembang, dom bolah, potelot, kertas, kaca cermin,  kembang boreh, dhuwit, miri, uyah lan kain mori putih. Sawise dipendhem, tilas pendemane ditutupi  lan diwenehi lampu nganti selapan dinane.  Babagan upa rampe lan lampu kui mau ana kang menehi teges dhewe-dhewe, ananging  dudu kui mau sing kepingin tak lelimbang.

May 09, 2014

LHOGOK, CENCENGPO dan GONDHES


Selama pulang dan tinggal di rumah, suasana kampung halaman menawarkan bunyi-bunyian yang lama tak terdengar di telinga.

Bunyi pertama adalam “lhogok”.  Bunyi “lho” diucapkan dengan aksen jawa, bukan seperti “lho!” dalam bahasa Indonesia. Sampai saat ini , penulis tidak dapat mencari padanan bunyi ini. Sementara, bunyi “gok” diucapkan biasa.  LHOGOK  merupakan umpatan khas Ambarawa dan sekitarnya di tahun 90-an yang kadang masih juga terdengar sampai sekarang. Perasaan puas biasanya akan menemani mereka yang mengucapkan lhogok dengan lugas dan ekspresif.

August 19, 2013

RADIO, INTERNET, dan BUDAYA “SALAM”

Ketika mulai menekuni thesis, radio menjadi salah satu teman yang saya anggap “mengerti aku”. Mengapa demikian ?

SUMBER GAMBAR : SINI
Coba kita amati cara komunikasi radio. Radio akan selalu broadcast dan menyapa kita kapanpun kita mendengarkannya. Kita bisa menghidupkan kapanpun kita mau dan mematikannya kapanpun kita mulai bosan. Radio tidak akan “marah” dan “ngambeg” ketika kita diamkan, dia akan tetap “bunyi” dan menyiarkan acara yang menyapa pendengar. (Jangan lakukan kepada pacar anda tentu saja). Sembari mendengarkan radio, kita juga masih bisa melakukan hal lain (ini berbeda dengan nonton TV). Atau sebaliknya, kita bisa mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan radio. Bagi saya saat ini, teman di kala suka dan duka mengerjakan thesis adalah radio.


Salah satu acara yang menarik dan sampai sekarang masih ada adalah acara REQUEST (putar lagu plus salam). Kedengarannya aneh. Di zaman sms, telpon, internet macam ini, masih ada orang yang berkirim salam lewat radio. Mengapa tidak langsung saja sms, fb, twitter, telpon atau BBMan bila ingin menyapa seseorang ? Bukankah lebih tepat sasaran dengan menghubungi seseorang dengan alat komunikasi tersebut ? Nyatanya masih banyak yang berkirim salam lewat acara musik di radio.

Bila kita rasakan, dikirimi salam di radio atau berkirim salam di radio ternyata menimbulkan rasa yang lain. Bukan komunikasi langsung yang disasar namun membangkitkan suasana diperhatikan,  disapa, bahkan secara eksistensial dianggap ada. Ketika seseorang menyapa rekannya di radio, menyampaikan salam dan memesan lagu, ada perhatian yang disampaikan oleh si penyapa.

Memang, pengalaman saya berkirim salam baru satu kali di tahun 1997. Itu saja saja harus janjian dengan teman-teman untuk mendengarkan siaran radio di jam tertentu. Saat itu, saya harus mendatangi kantor radio, membeli kartu sapaan (seingat saya harganya Rp 100,-) dan menuliskan lagu pesanan serta ucapan sapaan. Memang lama, tapi lamanya usaha untuk menuliskan, terbayar dengan perasaan deg-degkan ketika mendengarkan acara. Deg-degan apakah pesan saya dibacakan dengan benar oleh penyiar, deg-degan apakah teman yang saya sapa juga ikut mengdengarkan radio.  Suasana yang terbangun dalam keterbatasan seringkali memang kita rindukan.

Bila melihat saat ini, acara REQUEST lagu di stasiun radio menggunakan sms, telpon, fb, twitter sehingga lebih dipermudah. Akan tetapi, dengan kemudahan itu, tidak lagi banyak orang yang menyampaikan SALAM (dibandingkan sebelum tahun 200an). Salam pada zaman saya lebih dipahami sebagai sapaan tidak langsung kepada seseorang. Itu terjadi karena keterbatasan media komunikasi. Sekarang, ketika sarana sudah lebih mudah didapat, ternyata SALAM tetap saja digunakan karena memiliki ‘rasa’ yang berbeda. Mungkin lebih mudah langsung berkomunikasi dengan seseorang, namun dengan SALAM, yang dituju bukan komunikasi langsung, namun sarana untuk menyatakan bahwa saya menghargai anda dan menyatakan tetap terhubung dengan anda.
SUMBER GAMBAR : SINI

Saya mencermati bahwa penggemar “salam” di radio berkurang karena munculnya media hiburan lain. Ketika TV dan internet makin diakrabi oleh masyarakat, saya menduga bahwa radio akan hilang, namun ternyata tidak. Walau berkurang pendengar, ternyata radio masih memiliki pendengar setia. Walau kepemilikan “kotak” radio berkurang , namun radio masih memiliki pendengar yang mendengarkan lewat alat lain seperti MP3 player dan HP. Bahkan, radio sendiri sekarang makin luas menjangkau pendengar dengan streaming di internet. (KPK bahkan meluncurkan radio KPK tanggal 17-8-2013 kemaren).

Saya menduga radio akan terus eksis karena radio memang “mengerti kita” dan memberikan suasana nyaman bagi pendengar. Saya kira akan banyak yang tetap mendengarkan radio karena manusia mudah bosan dengan sarana komunikasi langsung yang melelahkan. Masih tertarik dengan salam dan radio ?


Ketika berjalan-jalan di internet dengan tema ini, ternyata seorang teman pernah menulis juga : http://putradaerah.wordpress.com/2007/09/20/radio-someone-still-loves-you/

May 05, 2013

SUPERHERO pengangguran : Hilangnya Idealisme



Dimulai dengan perjuangan mencari tiket di saat akhir dengan membeli dari calo, akhirnya saya menonton Pentas Teater Gandrik “GUNDALA GAWAT” di Taman Budaya Yogyakarta (17/4).  Harapan saja sejak awal adalah satu : Saya ingin melihat tontonan yang menghibur.

TAWA memang sudah menjadi lekat dengan TEATER GANDRIK.  Olahan dialog yang menimbulkan humor dan menimbulkan tawa,  menjadi jaminan bagi setiap pementasan TEATER GANDRIK. Gaya plesetan dan dagelan parikena menjadi  “jualan” yang  dinanti oleh penonton. Dagelan yang  diharapkan adalah dagelan yang bernuansa  sosial politik, dengan pembawaan yang  cerdas, dan tentunya gaya JOGJA.

Oleh karena itu, saya dan seluruh penonton yang telah membeli tiket memiliki harapan untuk tertawa sepanjang pertunjukan. Kawan sayapun berkomentar ketika masuk dan melihat antusiasme penonton yang tertawa “Wong semene akehe ki tuku tiket ming arep ngguyu” (orang sebanyak ini, membeli tiket hanya untuk tertawa). Sesederhana inilah ekspektasi saya menonton Teater Gandrik.

Lakon GUNDALA GAWAT ini adalah karya Goenawan Mohamad (yang disebut pelawak yang menyamar sebagai penyair) dengan adaptasi dan penyesuaian oleh Agus Noor dan Whanny Dharmawan.  Tokoh Superhero GUNDALA PUTRA PETIR ini dimainkan bersama dengan penciptanya, Hasmi (E Harya Suryaminarta). Selain menghadirkan GUNDALA(Susilo Nugroho, aka Den Baguse Ngarsa), muncul juga tokoh Superhero lain seperti AQUANUS (diplesetkan AKU ANUS, manusia air, diperankan Jamaluddin Latif), SUN BO KONG (plesetan dari SUN GO KONG, diperankan oleh Jujuk Prabowo), PANGERAN MELAR (mungkin adaptasi dari Mr. Fantastic dari FANTASTIC FOUR, diperankan oleh Gunawan Maryanto), Jin Kartubi (tokoh dalam Gundala Putra Petir, diperankan oleh M. Arif Wijayanto), Agen X (superhero girl, diperankan oleh Jami Atut Tarwiyah). Selain para superhero, muncul juga peran Pak Petir (ayah Gundala, diperankan Butet Kartaredjasa), Sedah (istri Gundala, diperankan Nunung Deni Puspitasari), serta Nungki (Istri Hasmi, diperankan oleh Agnesia Linda).  

Ekspektasi sederhana itu tidak langsung  terwujud ketika di awal dimunculkan adegan dialog Hasmi sang pencipta karakter Gundala dengan Nungki, istrinya.  Penempatan adegan tersebut di awal memberi kesan bahwa lakon kali ini tidak hanya berisi DAGELAN, namun memilki alur yang perlu disimak. Adegan tersebut mau menunjukkan kehidupan  seorang komikus  yang suram. Suramnya kehidupan komikus berhubungan dengan suramnya si karakter ciptaan, GUNDALA.

Gundala sudah tua,tidak banyak muncul dalam hiruk pikuk dunia, ia sudah pensiun. Gundala adalah anak Pak Petir. Dengan munculnya banyak kejahatan yang didahului munculnya petir, ia dituduh ikut bertanggungjawab. Gundala ingin membersihkan nama sekaligus mencari tahu dalang dari kejahatan yang dibarengi dengan kemunculan petir. Hasmi, sebagai pencipta karakter, ikut mencari tahu dengan mengumpulkan para superhero di “PUSAT PENGERAHAN TENAGA SUPERHERO”.  Jejak kejahatan mengarah pada kelompok Harimau Lapar.  

Kelompok Harimau Lapar ternyata menjebak para superhero. Bukan hanya itu, ternyata para superhero, selain Gundala, membelot  dan mendukung  aksi Harimau Lapar. Tinggal Gundala sendiri yang belum masuk dalam kelompok Harimau Lapar.  Gundala akhirnya menyerah kalah pada Kelompok Harimau Lapar karena istrinya disandera. Para Superhero kehilangan kodratnya sebagai Pahlawan pembela kebenaran dan keadilan. Idealisme yang disimbolkan dalam diri superhero, akhirnya pupus ketika berhadapan dengan kekuasaan.  Bila idealisme yang dilekatkan pada pundak Superhero hilang, ke mana idealisme pergi ? Atau, sudah hilangkah idealisme ?

Pementasan kali ini tidak berusaha menjawab pertanyaan tadi, namun berusaha menyuguhkan suatu pembenaran atas tindakan superhero dengan memunculkan refren “Daripada Negara dirampok oleh para Koruptor, lebih baik dibagi-bagi”.  Tetap ada pembenaran atas tindakan yang dilakukan. Artinya, Superhero masih berusaha membersihkan nama, tidak terang-terangan ikut masuk dalam golongan mereka yang “korupsi”, padahal  yang dilakukan sama saja.

Keinginan saya untuk hanya tertawa menyaksikan olahan dialog GANDRIK, berakhir dengan suntikan makna. Di akhir pementasan, selain terngiang dengan banyaknya dagelan saru-asu khas Jogja, GANDRIK  juga menyambar saya dengan gambaran bahwa “TERNYATA, kejahatan yang paling jahat itu dilakukan oleh mereka yang berusaha untuk memberantas kejahatan.”

GANDRIK TENAN !!!
*** 

February 20, 2013

Pre-Wedding atau Post-Wedding ?

"Zaman saya dulu tidak ada photo pre-wedding mas, hanya orang-orang kaya yang buat foto kayak gitu !"

Ungkapan tadi terucap dari tetangga rumah Mas Bram, fotografer yang memotret salah seorang teman yang akan menikah.

Minggu lalu, teman lama saya minta tolong dipinjami vespa untuk pre-wedding. Mengingat vespa saya tidak eye-catching, saya pinjamkan vespa teman satu asrama yang lebih tua dan terawat. Saya mengantar vespa sekaligus ingin melihat proses pemotretan.
***

Foto sebelum pernikahan menjadi semakin umum dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Foto tersebut biasanya akan digunakan antara lain di dalam undangan pernikahan, dicetak besar dan ditempatkan di tempat resepsi pernikahan, serta dibuat slideshow untuk diputar pada waktu pernikahan.

Seingat saya, kebiasaan foto sebelum pernikahan ini mulai marak setelah tahun 2000, terutama dengan semakin berkembangnya teknologi fotografi. Alat pengambil gambar yang semakin canggih membuat semakin banyak orang menggunakan foto untuk berbagai kegiatan sebelum menikah.

Ada banyak tanggapan terhadap munculnya budaya baru ini. Di jajaran yang menganggap miring pre-wedding ada yang mengatakan bahwa pre-wedding itu haram. Ada pula yang mengatakan bahwa pre-wedding itu mahal. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa pre-wedding itu tidak lebih penting daripada menjalankan pernikahannya sendiri.

Selain pendapat di atas, ada juga yang mengatakan bahwa pre-wedding itu penting karena menggambarkan kemesraan pasangan, menjadi moment yang istimewa, demi keren pernikahan, agar ada kenangan bagi anak-cucu.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak anti pre-wedding. Bila alasannya mahal, sekarang banyak jasa pre-wedding yang tidak mahal, namun hasilnya bagus. Kita bisa juga mencari orang di sekitar kita (kakak, adik, sepupu, tetangga, ponakan ) untuk memotret dengan harga yang tidak mahal. Tentu harga mahal atau tidak tergantung nama fotografer serta kualitas yang dijaminkan. Saya sendiri punya pendapat lain tentang kebiasaan ini.

Saya bayangkan bahwa foto pre-wedding akan lebih fresh dan menampakkan ungkapan kasih satu sama lain daripada pada saat pernikahan. Bayangan saya, saat menikah, pasangan suami-istri sudah lelah dengan "tetek bengek" upacara dan pesta sehingga wajah dalam foto tidak akan lebih segar daripada pre-wedding.

Foto pre-wedding dapat juga dijadikan sebagai gambaran akan harapan menjalankan hidup berumahtangga; Harapan bahwa walaupun mengetahui kekurangan pasangan saya, saya tetap berkomitmen untuk hidup bahagia dan membangun kebahagiaan bersama dengan pasangan saya itu. Foto tersebut bisa dipasang dan dijadikan pajangan saat sudah menikah; dijadikan pengingat apabila mengalami persoalan yang dihadapi. Mungkin terkesan klise, namun semakin banyak mengingat saat-saat bahagia dalam relasi bersama, akan membuat pikiran terhadap pasangan akan menjadi lebih positif.

Pengandaian saya ini tentu didasarkan bahwa mereka yang akan menikah tentu saja sudah saling mengenal satu sama lain sehingga pre-wedding bukan hanya menjadi gambaran ideal khayal bahwa pernikahan itu akan bahagia setiap hari seperti di dalam foto, namun suatu komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan itu bersama. Oleh karena itu, keberhasilan pernikahan dapat dilihat ketika pernikahan sudah berumur lebih dari 30 tahun dan satu sama lain masih terus berkomitmen hidup bersama dan mewujudkan kebahagiaan seperti nampak dalam foto pre-wedding.

Akhirnya, pre-wedding akan mendapat makna ketika post-wedding dan menjalankan komitmen bersama sampai akhir. ***

January 08, 2013

CINTA TAPI BEDA : BEDA TETAP CINTA

Cahyo mengajak Diana ke Rumah Orangtuanya di Jogja. SUMBER.

“Mengapa menonton film 'CINTA TAPI BEDA' ?” demikian tanya pengantri tiket di belakang saya. Saat itu saya menjawab sekenanya bahwa film ini cukup banyak dibicarakan dan menjadi kontroversi. Karena itu, agar bisa masuk ke dalam kontroversi itulah, perlu melihat filmnya lebih dahulu. Jawaban itu ternyata berkembang.

January 05, 2013

Awas virus BISU !

Antri Nonton Bioskop (Sumber Gambar )

Saya termasuk penyuka film dan penonton bioskop. Salah satu ritual yang harus saya lakukan adalah mengantri tiket bioskop. Di Empire XXI Yogya, biasanya pintu masuk dibuka pada pukul 11.00, pembelian tiket dilayani mulai pukul 11.30 sedangkan film pertama mulai pada pukul 12.00. Yang terjadi adalah sejak sebelum dibuka, biasanya orang sudah mengantri untuk mendapatkan tiket yang sesuai dengan jam yang diinginkan hari itu dan tempat duduk yang nyaman. Karena tidak punya tabungan uang di XXI (MTIX), saya selalu ikut mengantri.

November 14, 2012

AYO NDHODHOk


Mbokmenawa, perkara kang arep tak kandakake iki ming perkara kang lumrah nanging ora saben uwong uwis mangerteni. Babagan Ndhodhok kang  bener, sehat lan ora akeh ndadekake bangkekan banjur lara. Perkara ndhodhok iki perkara serius nanging uwis akeh uwong saiki ora seneng lan ora kegladi ndhodhok amarga luwih akeh WC lungguh tinimbang WC ndhodhok . Mangkene ceritane.

November 12, 2012

James Bond, Johannes XXIII dan John F. Kennedy

Dr. No (1962) Film James Bond Pertama. Sumber Gambar.

Oktober 1962, ada tiga peristiwa yang akan diperingati dunia 50 tahun kemudian. Pertama adalah peluncuran Film Pertama James Bond 007, Dr. No pada tanggal 5 Oktober 1962.

November 02, 2012

Balungan, bukan hanya makanan, tapi cara makan.


BALUNGAN a la Warung Mie Jowo

 Bila di SOLO ada “TENGKLENG”, di JOGJA ada “BALUNGAN”. Sama-sama makanan kreatif yang kemungkinan besar lahir dari situasi serba terbatas, kemudian berkembang menjadi makanan favorit segala segmen.  

October 19, 2012

Kulkas : Belajar berharap


Pulang dari kuliah, hal pertama yang sering kulakukan adalah pergi ke ruang makan, mengambil gelas, minum air dingin dari dispenser sambil membuka KULKAS yang terletak di sampingnya. Dan, seperti biasanya, isinya  ....kosong.

October 15, 2012

VESPA, Solidaritas, dan “Hormat VESPA”

VESPA-ku, sedang servis di Pak TOMO
Menjadi pengguna VESPA memiliki beberapa keuntungan.  Salah satunya adalah sapaan yang hangat dari pengguna VESPA yang lain.

September 28, 2012

Pak TOMO : Mekanik VESPA yang tidak punya VESPA


Apakah dengan jujur, bisnis akan semakin maju ? Pertanyaan relasi kejujuran dan bisnis adalah sesuatu yang tidak bisa dengan mudah diputuskan. Seringkali muncul anggapan bahwa kejujuran tidak bisa masuk dalam dunia bisnis. Lantas, di manakah kejujuran disimpan oleh para Pebisnis ?  Saya punya pengalaman.

August 11, 2012

#1 Dusta sastra yang tak sungguh-sungguh dalam Cerita Cinta Enrico (atau tentang kematian teks)

sumber gambar : SINI 
Sejak manusia mengenal bahasa, cinta adalah pokok bahasan yang sampai sekarang tidak habis dibicarakan. Novel Ayu Utami, Cerita CintaEnrico,  kembali memamerkan kosakata “ cinta” menjadi tatapan awal pembaca.  Penempatan judul yang sangat klise “cerita cinta” membuat  saya penasaran semata karena penulisnya adalah Ayu Utami, yang namanya menjadi jaminan novel  “sastra” Indonesia.  Saya sebut jaminan karena banyak sastrawan yang mengapresiasi, mengkritik entah positif, entah mencaci-maki. Saya membacanya semata karena penulisnya, Ayu Utami. Semata tentang cintakah ?

August 01, 2012

Jakarta : Jangan kausembunyikan senyum di wajahmu !



Menikmati Jakarta di pagi hari pukul 06.00 adalah memandang Jakarta yang sedang sibuk, dipenuhi dengan kendaraan yang tak kunjung habis. Hal itulah yang kulakukan  saat kedatanganku di Jakarta, setelah 4 tahun meninggalkan Jakarta.  Seluruh kendaraan yang memenuhi jalan, berlomba untuk mencari sedikit celah untuk dimasuki.  Rasanya tidak banyak perubahan dari suasana empat tahun lalu, tapi aku ingin melihat perubahan.  Bila harus mencari-cari kebaruan, yang langsung menarik adalah perubahan orang-orangnya.  Semakin banyak orang yang enggan memperlihatkan wajahnya. Semakin banyak orang menutup mulutnya dengan berbagai bentuk masker.  Aku teringat  peristiwa meletusnya Merapi di akhir tahun 2010. Waktu itu, di jogja banyak orang mengenakan masker karena debu merapi. Sekarang, di Jakarta banyak orang menggunakan masker, bahkan di dalam Bus TransJakarta.

Jakarta Nyaman : All You Can Eat !



sumber : gogirlmagz.com
Seperti apakah Jakarta Nyaman yang saya gambarkan ? 
Pengalaman berkunjung ke Jakarta dan makan  di restoran model “all you can eat”(ayce)  memberikan gambaran harapan saya tentang Jakarta. Peraturan dalam restoran macam ini adalah  “ bayar 1 kali, makan berkali-kali sepuasnya“. Daya tariknya adalah syarat yang mudah, namun manfaat yang melimpah.  

April 14, 2012

Mengapa harus MERAH ?


Mulai awal tahun 90-an, Mie Ayam telah menjadi makanan populer di Jawa, dan Indonesia, menyusul Bakso yang sudah populer sebelumnya. Makanan ini cukup mudah ditemui dan seringkali dijual satu paket dengan bakso. Di mana ada penjual mie ayam, biasanya juga menjual bakso, demikian juga sebaliknya. Selain paket jualan yang sama itu, bumbu lain yang tersedia di hadapan pembeli ketika menyantap mie ayam dan bakso adalah sambal cabai mentah, kecap manis dan saus pedas. Ketiga bumbu itu, selalu ada menemani alat makan yang juga standard yaitu sendok-garpu serta sumpit. (dulu sebelum ada mie ayam, hanya ada sendok bebek dan garpu). Display dan penyajian ini, umum penulis temui di warung mie ayam bakso pinggir jalan di Jakarta dan Yogya.


Powered by Blogger.